Setelah tetralogi Laskar Pelangi yang kisahnya begitu menginspirasi dan konon ditulis berdasarkan kisah nyata, bangsa Indonesia kini punya cerita penyejuk serupa nan menggugah jiwa dalam novel Negeri 5 Menara yang dikarang oleh A. Fuadi. Dan seperti karya sastra ciptaan Andrea Hirata tersebut, buku inipun merupakan bagian dari sebuah trilogi dan kabarnya bakal segera diangkat ke layar lebar.
Buku ini saya beli sudah hampir sebulan yang lalu, tapi saya baru saja kelar membacanya hari ini. Ritme hidup saya agak heboh menjelang akhir tahun kemarin memaksa saya untuk membaca buku ini sepotong2. Tapi, kalau ceritanya tidak bagus tentu tidak akan membuat saya ‘harus’ merampungkan novel yang menurut saya memang pantas mendapatkan pujian dari banyak kalangan ini.
Pertama, dari segi bahasa. Sang penulis yang mantan wartawan Tempo dan VOA serta lulusan beberapa perguruan tinggi di Amerika dan Inggris lewat jalur beasiswa ini benar2 menunjukkan kematangan dalam merangkai kata dan kalimat. Ringan, renyah dan mengalir tapi tetap berbobot. Tak sulit bagi pembaca untuk mencerna tutur penulisannya, walaupun banyak sekali sempilan kata dan kalimat yang menggunakan bahasa Arab dan Inggris.
Kedua, dari segi penokohan. Mengambil sudut pandang orang pertama sebagai tokoh sentral cerita ini, penulis juga cukup detail dalam menggambarkan tokoh2 utama dan pendukung dalam novel ini. Sifat masing2 tokoh berhasil dijelaskan dengan cukup rinci dan konsisten, sehingga keragaman suasana yang hendak dibangun mudah dibayangkan oleh pembaca.
Sangat terasa bagaimana novel ini dibangun atas pengalaman pribadi sang penulis selama menimba ilmu di Pondok Modern Gontor.
Ceritanya sendiri bagaimana?
Intinya, novel ini menceritakan kehidupan sehari2 di sebuah pesantren modern yang terletak di tengah hutan di Jawa Timur. Alif, sang tokoh utama yang berasal dari pelosok desa di ranah Minangkabau, adalah salah satu santri yang sedang mondok dan mencari ilmu di Pondok Madani alias PM, begitulah pesantren ini bernama. Bersama kelima sahabat karibnya, Alif harus menjalani hari2nya dalam ketatnya jadwal belajar dan kerasnya peraturan di pondok di bawah pengawasan dan bimbingan para guru dan kiai.
Ada juga penggambaran suasana hati Alif yang gundah gulana karena jauh di dalam hati sebenarnya dirinya ingin sekali bersekolah di sekolah umum dan melanjutkan kuliah ke ITB. Lalu, tak ketinggalan juga seorang tokoh perempuan idaman hati yang sempat bikin Alif deg-deg plas.
Nah, di sepanjang cerita banyak pesan2 moral yang bisa diambil oleh pembaca, seperti misalnya ilmu ikhlas, motivasi, kedisiplinan, persahabatan dan solidaritas hingga kreativitas serta keberanian. Dan tak lupa mantra ajaib penggugah semangat dan penghapus keputusasaan: “man jadda wajada”.
Inspiratif? Sudah pasti.
Mendidik? Ya kak Seto saja bilang begitu.
Menghibur, kah? Walaupun novelnya serius, tapi ada selipan humor2nya juga lho.
Lalu dari mana kata “lima menara” pada judul novel ini berasal? Ya silakan baca sendiri bukunya. Yang jelas, kisah ini bisa membantu kita dalam memotivasi diri sendiri. Selamat membaca.
