dua minggu bersama iPad mini with retina display

Ada beberapa hal yang mengesankan bagi saya setelah menggunakan iPad mini with Retina display ini selama 2 minggu. Yang pertama adalah fisiknya. Menurut saya ukuran iPad mini sangat pas untuk sebuah tablet. Tidak terlalu besar sehingga nyaman dipegang dan ditenteng. Tidak juga terlalu kecil sehingga apa yang ditampilkan di layar masih nyaman untuk dilihat dan dibaca. Bobotnya cukup ringan sehingga membaca ebook ataupun majalah/koran pun tak akan membuat tangan pegal.

Mengenai ketajaman layar Retina, menurut saya memang terlihat sekali perbedaannya dibandingkan dengan layar biasa. Semua terlihat sangat tact-sharp, tajam sekali, setajam silet! Perbedaan ini makin saya rasakan ketika saya kembali membaca pada layar iPad 2. Seolah-olah iPad 2 dibuat satu dekade yang lalu.

Daya tahan baterainya sangat mumpuni. Dengan pemakaian yang normal (menurut ukuran saya), baterai iPad mini ini bisa tahan hingga lebih daripada 1 hari tanpa perlu diisi ulang.

Prosesor A7 yang ditanam di dalamnya juga memberikan performa yang lebih baik tanpa menghasilkan panas yang berlebih. Beberapa aplikasi terasa lebih snappy dibandingkan saat dijalankan di iPad.

dua minggu bersama iPad mini with retina display

desktop class

Menurut si penulis artikel ini, iPad Air lebih cepat daripada MacBook Air 11″.

I’ll leave you with this: my iPad Air is faster than that 11″ MacBook Air and it has the same amount of storage. My iPad gets at least twice the battery life of that laptop and tips the scales at less than half the weight. It cost 65% of the price of the MacBook Air and has integrated cellular networking that can’t be had on an Apple laptop at any price.

Link

liburan dengan iPhone dan iPad

Sepanjang liburan selama 10 hari kemarin, iPad dan iPhone benar-benar menjadi benda yang tak tergantikan. Saya mengandalkan seluruh pemesanan tiket pesawat dan reservasi hotel melalui iPad maupun iPhone. Semuanya dilakukan secara elektronik, tanpa selembar kertas pun.

iPhone juga menjadi kamera kedua setelah kamera Ricoh GXR saya yang sebenarnya lebih sering tersimpan di dalam tas ketimbang digunakan. Jadi, mungkin lebih tepat kalau iPhone justru disebut sebagai kamera utama ya. :)

Fungsi berikutnya yang tak kalah penting adalah sebagai sarana update status, baik itu di Twitter, Facebook maupun Path. Menulis blog saya lakukan hampir setiap hari dengan aplikasi Poster. Sebagai sarana komunikasi: email, SMS, Whatsapp dan LINE membuat saya terhubung secara mudah dengan siapa pun yang saya kehendaki.

Liburan bukan berarti ketinggalan berita termutakhir. Saya mengandalkan aplikasi semacam Reeder, Flipboard ataupun Pulse untuk membaca kabar-kabar terbaru.

Kalau Luna dan Bima sudah mulai rewel atau bete, biasanya berbagai macam game yang terpasang di kedua gadget tersebut bisa menjadi semacam obat penenang. :)

Semua hal tersebut bisa dilakukan dengan iPad ataupun iPhone. Hidup memang semakin mudah dan harus selalu disyukuri.

liburan dengan iPhone dan iPad

review: day one app

Sebenarnya sudah lama, lamaaaa sekali saya ingin menulis tentang aplikasi yang satu ini. Tapi entah kenapa selalu mentok paling banyak 2 paragraf saja lalu mandeg. Agak ironis, soalnya aplikasi Day One yang akan saya bicarakan di sini ini justru berkaitan dengan urusan tulis menulis. Bukan dalam artian menulis sebuah tulisan yang bisa dikonsumsi oleh orang lain sih, karena Day One ini dibuat sebagai aplikasi journal atau bahasa yang lebih awamnya semacam buku harian digital.

Sebelum menggunakan Day One, saya tak pernah menulis buku harian atau jurnal apapun. Dulu saya berpikir menulis buku harian itu tidak macho banget, soalnya waktu kecil biasanya yang rajin menulis diary itu teman-teman cewek. Padahal sebenarnya kan tidak demikian ya, karena banyak tokoh-tokoh besar dunia yang rajin menulis buku harian. :)

Oke, kembali ke Day One. Aplikasi ini tersedia untuk Mac OS X dan iOS. Sebagai sarana penyimpanan awannya, pengguna bisa memilih untuk menyimpan data ke iCloud maupun Dropbox. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengakses entry-entry yang sudah ditulis dari iPhone, iPad ataupun Mac sekaligus.

Di balik antarmukanya yang cukup sederhana, Day One menyimpan beberapa fitur yang menarik. Setiap entry bisa dibedakan menurut tanggal dan waktu. Pengguna juga bisa menambahkan foto, informasi lokasi dan kondisi cuaca pada saat sebuah entry dibuat.

Supaya tidak lupa untuk menulis catatan harian setiap hari, Day One juga dilengkapi dengan fasilitas reminder. Sebagai pendukung aspek kerahasiaan, pengguna bisa melindungi data dengan password sehingga aplikasi ini tidak bisa dibuka oleh sembarang orang. Malu juga ya kalau curhatan pribadi kita oleh orang lain. :)

Pengalaman menggunakan Day One

Hingga hari ini, sudah ada 222 entry yang saya tulis selama kurun waktu 180 hari atau sekitar 6 bulan. Sejauh ini sih saya belum pernah melewatkan sehari pun tanpa menuliskan sesuatu pada Day One.

Bagi saya menulis sebuah entry atau catatan harian tak perlu panjang-panjang. Ikuti mood saja. Kalau sedang ingin mengoceh, ya tulisan bisa agak panjang. Kadang malah lebih panjang daripada tulisan di blog. :)

Tapi kalau sedang tak ingin banyak bercerita, saya hanya menulis secukupnya saja. Contoh entry yang sederhana:

  • Pagi: lari pagi, sarapan bubur
  • Siang: jalan-jalan ke mall
  • Malam: nonton berdua sama si Bunda

Pengalaman menulis jurnal ternyata cukup mengasyikkan lho. Apalagi saat membaca entry-entry lama, refreshing sekali.

Bagi yang belum pernah mencoba menulis jurnal atau buku harian, silakan dicoba. Entah menggunakan pulpen dan buku catatan ataupun dengan aplikasi semacam Day One ini. Syukur-syukur bisa konsisten menulis hingga tua. :)

review: day one app

review: adonit jot touch

Beberapa hari ini saya telah mencoba sebuah stylus keluaran terbaru dari Adonit, yang mereka labeli sebagai Jot Touch. Stylus ini menggunakan teknologi Bluetooth untuk mendukung kemampuan dalam mendeteksi perbedaan tekanan di atas layar sentuh. Mirip-miriplah seperti kemampuan stylus pada tablet-tablet Wacom maupun pada Galaxy Note.

Secara fisik, bentuknya nyaris serupa dengan generasi pendahulunya terutama Jot Pro. Jot Touch mewarisi body alumunium yang terasa kokoh dan precision disc untuk peningkatan akurasi saat ujung stylus digoreskan pada layar sentuh. Perbedaan yang paling signifikan adalah adanya 2 tombol yang terletak di area pegangan. Kedua tombol tersebut bisa difungsikan untuk berbagai tugas, tergantung aplikasi apa yang digunakan.

Sebenarnya ada satu tombol lagi yang tidak terlihat dan terletak di antara 2 tombol tadi. Fungsinya adalah sebagai tombol power dan untuk pairing Bluetooth dengan tablet atau smartphone. Untuk menghidupkan Jot Touch, tombol tengah ini cukup ditekan selama kurang lebih 3 – 4 detik hingga LED berwarna hijau menyala. Sedangkan untuk pairing Bluetooth, waktu menekannya lebih lama, sekitar 6 – 8 detik hingga lampu LED berkedip-kedip hijau dan merah.

Jot Touch ini perlu diisi ulang dayanya. Setiap paket pembeliannya dilengkapi dengan charger mungil berbentuk mirip USB flash disk dan bisa dicolokkan ke komputer, laptop ataupun adaptor AC. Untuk melakukan pengisian daya, kita tinggal colokkan pangkal Jot Touch ke charger tadi dan klik!, keduanya langsung menempel erat berkat adanya magnet.

Lantas bagaimana performanya saat digunakan untuk menulis maupun menggambar?

Tanpa fitur Bluetooth-nya pun, Jot Touch ini sebenarnya sudah cukup nyaman untuk digunakan. Bahkan termasuk yang paling nyaman di antara stylus-stylus lain yang pernah saya coba.

Saat ini, belum banyak aplikasi yang sudah 100% mendukung fitur pressure sensitivity dan shortcut pada stylus ini. Adonit telah mengeluarkan SDK yang bisa diadaptasi oleh para pengembang ke dalam aplikasi-aplikasi mereka. Namun belum banyak pengembang yang menerapkannya. Alhasil, jumlah aplikasi yang benar-benar mendukung kemampuan Jot Touch ini secara optimal masih sangat terbatas. Daftar lengkapnya bisa diihat di sini.

Saya mencoba Jot Touch pada 2 aplikasi yang cukup sering saya gunakan: NoteShelf dan Sketchbook Pro. Pada NoteShelf, kita bisa menikmati kemampuan stylus ini dalam mendeteksi perbedaan tekanan pada layar sentuh. Selain itu, kita juga bisa mengatur kedua tombol shortcut untuk bisa melakukan perintah-perintah tertentu seperti undo, redo, go to the next page dan sebagainya.

Sedangkan pada Sketchbook Pro, kita hanya bisa menikmati fitur pressure sensitivity saja. Pengembang aplikasi untuk menggambar dan mewarnai ini belum menjadikan Sketchbook Pro kompatibel dengan tombol shortcut yang ada pada Jot Touch. Menurut saya sih akan sangat baik jika tombol-tombol shortcut-nya bisa digunakan untuk undo atau mengubah jenis pensil, pena, ataupun kuas.

Overall, Jot Touch adalah stylus yang cukup nyaman untuk digunakan. Namun karena belum banyak pilihan aplikasi yang mendukung teknologi pressure sensitivity dan ketersediaan 2 tombol yang bisa dipakai untuk berbagai tugas, keberadaan fitur Bluetooth-nya menjadi agak mubazir. Saya pribadi tadinya mengharapkan Jot Touch juga dapat menawarkan fitur wrist protection, sehingga telapak tangan bisa lebih nyaman diletakkan pada layar sentuh saat menulis ataupun menggambar.

Update:

Ini contoh gambar yang saya buat menggunakan Jot Touch dan aplikasi Sketchbook Pro.

review: adonit jot touch

poster, aplikasi wordpress untuk iPad

Saya pernah mencoba beberapa aplikasi blogging di iPad, termasuk aplikasi native dari WordPress sendiri. Namun saya belum pernah merasa puas. Sepertinya pihak WordPress sendiri tak terlalu serius dalam membangun aplikasinya untuk para pengguna iPad.

Hari ini saya mencoba Poster, sebuah aplikasi blogging untuk WordPress yang dibuat oleh Tom Witkin, seorang pengembang perorangan. Poster dirancang khusus untuk terintegrasi secara penuh dengan Wordpres (baik WordPress.com maupun self-hosted), sehingga kita bisa ngeblog melalui aplikasi ini dengan pengalaman yang nyaris sama dengan jika kita menggunakan editor WordPress pada web.

Antarmuka aplikasi ini pun cukup apik dan simpel. Namun fitur yang paling saya suka adalah dukungannya terhadap Dropbox dan Markdown. Itu berarti saya bisa menulis melalui aplikasi iA Writer, dan suatu saat jika sudah siap, saya bisa membukanya di Poster untuk kemudian dapat langsung di-publish.

Seperti tulisan ini contohnya. :)

Update:
Setelah saya tanya ke Tom via email, Poster ini memang belum mendukung commenting system within the app, seperti halnya aplikasi WordPress maupun aplikasi-aplikasi pihak ketiga lainnya.

poster, aplikasi wordpress untuk iPad