menurunkan kolesterol itu berat, jenderal!

Sejak lama saya memang mempunyai sedikit masalah dengan kadar kolesterol dalam tubuh. Angkanya seringkali di atas batas normal, walaupun belum terlampau jauh ke atas. Apalagi kalau saya sedang malas berolahraga dan sering makan enak, hampir dapat dipastikan total kolesterol saya akan melebihi angka 200. Padahal tubuh saya cenderung kurus dan sexy.

Awal bulan April yang lalu, saya mendapati kadar kolesterol jahat dan trigliserida saya tinggi kembali. Kepada dokter yang memeriksa saya katakan bahwa saya merasa sudah berusaha menjaga makanan dan olahraga. Namun, menurut si dokter, usaha saya belum cukup maksimal.

Misalnya, saya sudah berusaha berolahraga 3 kali seminggu, minimal selama 30 menit. Itu belum cukup, mesti ditambah menjadi 5 kali seminggu minimal 45 menit.

Makanan pun demikian. Selama ini saya sudah berusaha mengurangi konsumsi daging merah dan seafood seperti udang serta makanan-makanan yang mengandung lemak lainnya. Namun ternyata itu belum cukup ampuh menurunkan kadar kolesterol jahat saya.

Si dokter belum memberikan saya obat dengan catatan saya harus bisa menjalani pola hidup yang lebih sehat agar indikator-indikator tadi bisa kembali ke level yang normal atau sehat. Dia memberikan waktu 3 bulan.

Dengan dukungan dari istri saya, saya pun bertekad melawan si kolesterol jahat dalam darah. Kebetulan istri saya adalah penganjur pola makan sehat dengan sistem food combining. Jadi klop lah food combining dipadukan dengan olahraga rutin.

Waktu 3 bulan yang diberikan oleh si dokter benar-benar saya pakai untuk membuktikan apakah memang pola makan yang lebih sehat dan olahraga yang teratur bisa mempengaruhi kadar kolesterol dan trigliserida dalam tubuh seseorang.

Dalam rentang waktu tersebut, saya sebenarnya masih suka curi-curi, dalam artian pola makan food combining belum saya terapkan 100%. Yang jelas asupan sayur dan buah saya lipat gandakan. Seringkali saya menghabiskan satu piring sayuran segar dalam sekali santap.

Untuk olahraga sebisa mungkin saya atur agar minimal bisa saya lakukan 4 kali seminggu. Berat memang, karena sebelumnya walaupun saya cukup rutin jogging atau lari, namun tak pernah saya berolahraga lebih dari 3 kali seminggu. Pasti ada jeda hari di antara hari-hari saya melakukan kegiatan fisik.

Kemarin, setelah 3 bulan sejak pemeriksaan di bulan April yang lalu, saya mendapatkan hasil pemeriksaan darah yang lebih bagus. Kadar kolesterol jahat (LDL) saya turun dari 176 ke 122 (batas sehat 150). Kolesterol baik (HDL) relatif stabil dari 60 ke 57. Kadar trigliserida juga turun dari 149 ke 61 (batas sehat 200). Total kolesterol turun dari 266 ke 192.

Saya bersyukur atas hasil pemeriksaan yang lebih baik tersebut. Namun untuk menjaga agar paling tidak ada di level seperti sekarang, saya harus lebih ketat menjaga pola makan dan tetap berolahraga rutin secara terukur.

Menjaga kesehatan memang berat, tapi jauh lebih memberatkan kalau kita jatuh sakit akibat tak menjaga kesehatan.

menurunkan kolesterol itu berat, jenderal!

jalan sehat dalam rangka hari AIDS sedunia

Seminggu yang lalu, saya dan keluarga kembali mengikuti kegiatan jalan sehat yang diadakan di lingkungan perumahan kami dan diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Tema yang diusung adalah “Getting to Zero“.

Image

Seperti biasa, sebelum jalan sehat para peserta dipandu untuk melakukan pembagian kondom senam pemanasan selama kurang lebih 15 menit. Setelah panas, peserta jalan sehat pun mulai berjalan menyusuri rute yang sangat nyaman dan hijau sepanjang kurang lebih 4 – 5 kilometer melewati perumahan dan hutan-hutan kecil.

Setelah jalan sehat, para peserta menikmati sarapan sehat sembari mendengarkan paparan seputar HIV dan AIDS serta pemilahan sampah. Tak lupa panitia juga menyediakan beberapa hadiah untuk kuis dan door prize.

Pesan utamanya sih sama seperti tema yang diusung: Getting to Zero, zero new infection, zero discrimination & zero HIV/AIDS related deaths.

jalan sehat dalam rangka hari AIDS sedunia

kolesterol dan makanan

Beberapa hari yang lalu, saya memeriksakan darah saya untuk mengetahui kadar gula darah dan kolesterol. Hasilnya kadar gula darah saya masih bagus, namun (seperti biasa) kadar kolesterol saya berada di atas ambang batas yang normal. Untungnya tekanan darah, indeks massa tubuh dan ukuran lingkar perut alhamdulillah masih bagus juga.

Memang dari dulu masalah saya adalah urusan kolesterol. Banyak orang yang tidak menduga hal ini karena tubuh saya cenderung ideal (baca: kurus). Padahal sebenarnya tidak ada korelasi langsung antara berat badan dan kadar kolesterol yang tinggi.

Dokter biasanya hanya menganjurkan saya untuk menjaga pola makan dan rutin berolahraga, tanpa memberikan obat penurun kadar kolesterol. Alasannya pertama karena usia saya masih muda (ehem…) dan kedua karena indikator-indikator kesehatan saya yang lain seperti gula darah, tekanan darah dan sebagainya masih bagus sehingga belum ada potensi komplikasi.

Untuk olahraga saya mulai berusaha rutin. Untuk pola makan, walaupun saya belum diet ketat, namun saya sudah mulai menjaga asupan makana. Tanpa sadar saya mulai mengurangi makanan-makanan yang katanya berkontribusi banyak dalam menaikkan kadar kolesterol dalam darah seperti daging merah (apalagi yang berlemak), durian, goreng-gorengan, kuning telur, dan lain sebagainya. Sekali-sekali sih saya masih mau mencicipi tapi dalam jumlah yang amat sangat terbatas.

Contohnya seperti durian. Saya adalah penggemar buah yang satu ini. Tapi sekarang walaupun melihat durian monthong bergelimpangan di supermarket, air liur saya sudah tak menetes lagi. Kalau dulu hampir pasti saya akan membeli minimal satu gelondongan. :)

kolesterol dan makanan

jalan sehat dalam rangka hari diabetes sedunia

Dalam rangka Hari Diabetes Sedunia yang diperingati setiap tanggal 14 November, tadi pagi di lingkungan perumahan kami diadakan kegiatan jalan sehat dan bersepeda bersama. Acara ini juga diisi dengan pemaparan tentang penyakit diabetes, pencegahan dan pola makan sehat yang dibawakan oleh dokter-dokter dari Rumah Sakit terkemuka di Pekanbaru.

Para peserta sudah berkumpul di tempat pendaftaran sekitar pukul 7 pagi. Sebelum jalan sehat dan bersepeda dimulai, para peserta melakukan senam pemanasan yang dipimpin oleh seorang instruktur aerobik. Gerakan-gerakan senam yang cukup energik ternyata cukup membuat keringat mulai bercucuran. :)

Berfoto bersama

Setelah itu, para peserta pun dilepas oleh secara resmi oleh panitia acara. Kali ini saya mengikuti jalan sehat bersama istri dan anak saya yang kedua, Bima. Anak saya yang pertama, Luna, tidak bisa ikut bersama kami karena sedang sakit di rumah.

Bunda dan Bima

Rute jalan sehat kurang lebih berjarak 5 kilometer. Sambil mengobrol santai dan menikmati segarnya udara pagi, seluruh peserta terlihat menikmati sekali kegiatan ini.

Jagung Rebus

Setibanya di tempat berkumpul tadi, beberapa meja yang penuh dengan makanan dan minuman sudah menyambut kami semua. Pisang rebus, kacang rebus, roti tawar, buah-buahan segar serta teh panas langsung diserbu para peserta yang sudah kelaparan. :)

Sisa makanan

Sembari menikmati hidangan tersebut, para peserta juga menyimak pemaparan-pemaparan tentang penyakit diabetes serta bagaimana mencegahnya. Tak lupa beberapa buah doorprize dibagikan untuk memeriahkan acara ini.

jalan sehat dalam rangka hari diabetes sedunia

berjuang mengusir kolesterol jahat

Minggu lalu, saya memeriksakan darah lagi ke klinik. Bukan karena sakit, melainkan karena jadwal untuk mengecek kadar kolesterol dalam tubuh saya sudah tiba.

Ceritanya, sekitar 3 bulan yang lalu saya menjalani pemeriksaan kesehatan rutin dari perusahaan. Dari hasil pemeriksaan darah, diketahui bahwa kadar kolesterol saya cukup tinggi, yaitu 280. Tentu saja saya terkejut sekali, karena pada pemeriksaan darah terakhir yang dilakukan 6 bulan sebelumnya, kolesterol saya berada pada level yang sangat bagus.

Selain kolesterol, saat itu kadar asam urat saya juga berada di atas batas normal. Namun pak Dokter tak memberikan obat apapun kepada saya, dengan alasan umur saya masih muda (ehem) dan tidak ada komplikasi penyakit lain. Saya hanya disarankan untuk mengatur pola makan dan olahraga serta diminta untuk mengecek darah lagi tiga bulan setelah itu.

Nah, hasil pemeriksaan darah minggu lalu itu menunjukkan bahwa kadar kolesterol saya masih tinggi, saudara-saudaraku! Tapi sudah lebih rendah daripada 3 bulan yang lalu. Sekarang sudah pada kisaran 250. Lumayan.

Memang selama 3 bulan belakangan ini, saya mulai menjaga makanan, terutama menghindari daging merah dan makanan berlemak. Porsi makan pun saya kurangi. Selama bulan puasa kemarin pun, saya tak kalap jika waktu berbuka tiba. Hanya minum dan makan kurma secukupnya, lalu makan besar sedikit saja.

Sayangnya, karena nabrak bulan puasa dan kesibukan lain, kegiatan olahraga tidak saya lakukan secara maksimal. Alhasil, penurunan kolesterol tidak terjadi secara signifikan.

Oleh karena itu, saat ini saya mulai bertekad untuk memulai berolahraga secara rutin kembali. Pilihan olahraga yang paling gampang tentu saja adalah lari. Seperti kebiasaan saya sebelumnya, mudah-mudahan saya bisa berlari 2 – 3 kali selama seminggu dengan istiqomah.

Target saya tidak muluk-muluk kok: dalam 3 bulan ke depan, saya harus menekan angka kolesterol saya di bawah 200.

Doakan saya! :)

berjuang mengusir kolesterol jahat

bisnis rumah sakit menguntungkan?

Ibunda saya sempat dirawat inap di sebuah rumah sakit swasta di Pekanbaru selama beberapa hari karena keluhan sakit kepala yang dideritanya. Sebelum dirawat inap, kami sempat membawa beliau ke rumah sakit swasta yang lain. Keduanya sama-sama modern dan cukup bagus pelayanannya.

Selama menunggui Ibu saya di sana, saya perhatikan kesibukan di rumah sakit itu memang luar biasa. Semua petugas, perawat, hingga dokter tak ada yang berleha-leha. Mungkin lebih sibuk daripada orang-orang yang bekerja di Bank atau pusat perbelanjaan. Namun yang jelas sangat berbeda jauh dibandingkan dengan kebanyakan kantor pelayanan publik milik pemerintah, yang petugasnya banyak yang bersantai-santai dan lambat dalam melayani masyarakat.

Tapi yang menggelitik pikiran saya sebenarnya lebih kepada potensi keuntungan dalam menjalankan sebuah rumah sakit. Untuk modal pembangunan sebuah rumah sakit, pasti uang yang dibutuhkan tak sedikit. Apalagi rumah sakit dengan fasilitas yang cukup lengkap, investasinya pasti bernilai milyaran atau bahkan trilyunan.

Belum lagi biaya operasionalnya. Upah untuk tenaga medis dan pegawai, listrik, air, biaya perawatan fasilitas medis, biaya untuk supply obat-obatan, dan sebagainya. Wah, pasti besar sekali ya.

Tapi pemasukannya juga lumayan lho. Ada pemasukan dari biaya berobat jalan, ongkos obat, medical check-up, instalasi gawat darurat, radiologi,  dan tentu saja dari biaya untuk rawat inap (yang per malamnya bisa mencapai jutaan rupiah tergantung jenis kamar). Itu belum termasuk pemasukan dari kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain yang biasanya dipayungi oleh kontrak. Nilainya bisa milyaran per kontrak.

Kalau dikelola dengan profesional dan tekun, saya yakin bisnis rumah sakit ini pasti menguntungkan. Buktinya makin banyak saja rumah sakit-rumah sakit swasta yang bermunculan, kan? Lagipula, keberadaan rumah sakit hampir pasti selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

Hmm…seandainya saya bisa punya rumah sakit sendiri kelak.

bisnis rumah sakit menguntungkan?

ujian di bulan suci

Pada bulan Ramadhan kali ini, selain mendapatkan banyak pencerahan spiritual, saya juga mendapatkan ujian yang cukup berat, yaitu kedua anak saya jatuh sakit hingga perlu dirawat inap. Bahkan anak lelaki saya, Bima, sampai dua kali rawat inap gara-gara penyakit diare.

Sebenarnya Luna dan Bima mulai mengalami gangguan pencernaan sejak awal Ramadhan. BAB mereka tidak padat seperti biasanya. Tapi karena saya dan istri masih berharap bahwa itu hanya gangguan sesaat, kami tidak langsung membawa mereka ke dokter. Istri saya masih berusaha mengatasi diare tersebut dengan asupan makanan yang lebih daripada biasanya. Maksudnya untuk menjaga kondisi sekaligus mengganti cairan yang keluar dari tubuh mereka.

Hingga hari berganti hari, diare mereka tak kunjung sembuh, bahkan makin sering. Maka, akhirnya kami bawa mereka ke dokter spesialis anak. Sepulang dari sana, ada beberapa obat yang harus diminum.

Selang beberapa hari, Luna menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Namun Bima masih terus diare, hingga pada suatu hari atas rekomendasi dokter umum, Bima dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat inap. Kondisi Bima waktu itu memang sudah agak melemah dan sang dokter tak mau mengambil resiko menunggu lebih lama lagi karena bisa menyebabkan dehidrasi.

Di rumah sakit, Bima langsung ditangani oleh dokter spesialis anak yang langsung memberikan beberapa obat lewat selang infus. Alhamdulillah keesokan harinya kondisi Bima membaik dan sudah ceria kembali. Bahkan sore harinya, Bima dinyatakan sudah boleh pulang.

20120824-220852.jpg

Sepulangnya Bima ke rumah, kini giliran Luna yang kembali terserang diare. Tak mau menunggu lama, keesokan harinya kami membawa Luna ke dokter anak. Sang dokter hanya memberikan beberapa obat untuk diminum di rumah. Kami masih berharap Luna tak perlu dirawat inap.

Selang 2 hari kemudian, kondisi Luna tak juga membaik, bahkan sekarang ditambah dengan batuk-batuk. Akhirnya ibu dokter anak merekomendasikan Luna agar segera dirawat inap. Langsung malam itu, kami bawa Luna ke Rumah Sakit Awal Bros (tempat yang sama di mana Bima dirawat inap sebelumnya).

Keesokan harinya, kebetulan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah sudah saatnya pulang mudik ke Jawa. Akibatnya tak ada yang menjaga Bima di rumah karena istri saya harus stand by di rumah sakit menjaga Luna dan saya pun harus ngantor. Terpaksa Bima saya drop di rumah sakit juga setelah mengantar ART di bandara dan kembali ke kantor. Jadi seharian Bima berada di rumah sakit bersama istri saya dan Luna.

Kami tak menyadari bahwa keputusan untuk membiarkan Bima berlama-lama di rumah sakit akan berakibat buruk. Malamnya, sepulangnya Bima dari rumah sakit, dia mengalami serangan muntah-muntah yang cukup hebat. Terhitung 15 kali Bima mengeluarkan isi perutnya hingga tersisa air saja. Jam 3 pagi, saya larikan dia ke UGD dan langsung dirujuk untuk rawat inap.

Kondisi Bima saat itu sudah lemas sekali. Kata dokter jaga saat itu, Bima sudah mengalami dehidrasi ringan. Saya sempat panik dan menyesal kenapa saya terlambat membawa Bima ke rumah sakit. Untungnya, setelah dipasang selang infus dan oksigen, Bima berangsur-angur membaik.

Demi kemudahan, Bima dirawat satu kamar dengan Luna. Tempat tidur mereka bersebelahan. Dokter anak yang merawat mereka pun sama. Menurut dokter, Bima terserang kuman yang menyerang pencernaannya karena terlalu lama terpapar di rumah sakit.

Setelah menginap semalam (dan 2 malam untuk Luna), akhirnya tadi sore mereka berdua sudah diperbolehkan untuk pulang. Alhamdulillah.

Itu artinya kami bisa mudik ke Jakarta seperti rencana semula besok pagi. :)

ujian di bulan suci

road to 10K: week-9 and week-10

Saya baru saja selesai menjalani periode pemulihan (recovery) selama 2 minggu. Dalam kurun waktu tersebut, saya menjalani latihan lari yang sangat ringan dan diselingi dengan jalan kaki. Selain itu, stretching dan pengompresan dengan es batu terus tetap dilakukan.

Detail programnya seperti ini:

Week-9
Monday: 3min walk/2min Run x 5 repeats
Tuesday: Rest and Ice
Wednesday: 3min walk/2min Run x 5 repeats
Thursday: Rest and Ice
Friday: 3min walk/3min Run x 5 repeats
Saturday: Rest and Ice
Sunday: 3min walk/3min Run x 5 repeats

Week-10
Monday: Rest and Ice
Tuesday: 1min walk/4min Run x 4 repeats
Wednesday: Rest and Ice
Thursday: 1min walk/4min Run x 4 repeats
Friday: Rest and Ice
Saturday: Easy 25min run
Sunday: Rest and Ice

Alhamdulillah setelah menjalani program ini dengan hati-hati, nyeri pada lutut saya berangsur-angsur menghilang walaupun dipakai untuk lari. Dalam skala 1 sampai 10, mungkin rasa sakitnya berkisar di angka 1 dan 2 saja.

Karena kemajuan ini, pelatih lari saya kembali memberikan program latihan yang normal mulai minggu ini (Week-11). Reportnya akan saya tulis pada pada akhir minggu ya. :)

road to 10K: week-9 and week-10

road to 10K: week-6, week-7 and week-8

Saya sengaja merangkum kegiatan lari saya tiga minggu terakhir ini ke dalam satu tulisan saja. Alasannya adalah karena dalam kurun waktu tersebut, saya hanya melakukan satu jenis kegiatan: beristirahat, alias tidak lari.

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, program latihan lari saya agak terganggu dengan cedera pada lutut kanan saya. Saya menjadi tidak bisa menjalankan latihan-latihan lari yang sudah ditentukan dalam program tersebut secara maksimal.

Akhirnya, atas saran dari physiotherapist yang menangani cedera lutut saya, saya terpaksa mengambil break selama kurang lebih 3 minggu. Selama masa break, saya tidak semata-mata berhenti berlari melainkan mesti menjalankan beberapa program stretching dan pengompresan lutut dengan es secara teratur.

Minggu ini adalah minggu pertama setelah masa istirahat tersebut. Untuk bisa kembali berlari seperti semula, saya diharapkan bisa mulai berlatih lari lagi namun dengan intensitas dan frekuensi yang sangat minimal untuk kemudian meningkat secara bertahap. Ini untuk melihat bagaimana respon lutut saya setelah masa istirahat tadi. Kalau membaik, maka program lari saya akan dilanjutkan untuk mencapai target 10K. Kalau ternyata masih sakit, berarti saya harus lebih bersabar menjalankan latihan pemulihan secara perlahan.

Doakan saya! :)

road to 10K: week-6, week-7 and week-8