Apple telah memensiunkan MacBook bersamaan dengan diperkenalkannya generasi terbaru MacBook Air sekitar dua minggu yang lalu. Tanda-tanda ke arah situ sebenarnya sudah bisa dibaca. Bahkan saya sempat berkicau di twitter tentang hal ini beberapa minggu sebelumnya. MacBook Air, sang adik, jelas lebih seksi, lebih imut, lebih powerful, lebih cepat dan lebih segala-galanya. Walau harganya sedikit lebih mahal, saya rasa kebanyakan orang tetap akan memilih Air ketimbang kakaknya yang berbadan plastik itu.
Sekarang tinggal MacBook Air dan MacBook Pro saja yang mengisi lini laptop keluaran Apple. Lalu, apa ada kelanjutan ceritanya? Menurut saya, ada.
Melalui MacBook Air, Apple sebenarnya sedang memimpin evolusi (atau revolusi) dalam dunia perkomputeran. Kalau Anda mau tahu bagaimana wujud sebuah komputer laptop 4 – 5 tahun ke depan, lihatlah MacBook Air. Body super tipis dan ringan, solid-state drive, tak ada optical drive, baterai yang tahan lama, bisa dihubungkan dengan piranti lain melalui USB ataupun Thunderbolt. Dan ini yang penting, ukuran yang tidak mengorbankan performa.
Lalu, bagaimana dengan MacBook Pro? Nantinya Pro juga akan menjadi semakin mirip dengan Air, atau bahkan menjelma menjadi Air.
Saat ini, kasta paling rendah dalam kelompok MacBook Pro adalah MacBook Pro 13” yang secara spesifikasi dan harga sudah overlapping dengan kasta tinggi MacBook Air. Itu berarti kemungkinan umur MacBook Pro 13” tidak akan lama lagi alias akan segera didiskontinyu oleh Apple.
Yang membedakan MacBook Air dan MacBook Pro kelas atas (15” dan 17”) hanyalah spesifikasi hardware saja. Dan saya yakin batas itu akan semakin tipis sebelum akhirnya hilang. Saat itulah Apple akan mempermudah konsumen dengan hanya menyediakan satu pilihan komputer laptop saja: MacBook (Air).