Dua hari yang lalu saat menemani si Luna bermain ke library, saya menemukan salah satu dari sekian banyak buku tentang pendiri dan CEO Apple, Steve Jobs. Judulnya Inside Steve’s Brain karya Leander Kahney. Setelah membaca beberapa halaman awalnya, saya memutuskan untuk meminjamnya untuk dibaca di rumah. Lumayan, sembari menunggu biografi resminya yang konon kabarnya baru akan terbit awal tahun 2012.
Saat ini saya baru menyelesaikan dua bab pertama. Tapi ada hal-hal menarik yang ingin saya share di sini, terutama dari bab pertama yang banyak mengisahkan momen-momen di mana Steve Jobs bergabung kembali dengan Apple dan bagaimana dia mampu menyelamatkan perusahaan tersebut dari kebangkrutan. Bahkan Steve Jobs mampu mengubah Apple menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia hingga saat ini.
Yang menarik buat saya tak melulu tentang sepak terjangnya, melainkan juga prinsip-prinsip dan pelajaran yang bisa diambil dari situ dan diterapkan buat kehidupan kita sehari-hari.
Focus and simplicity.
Dalam mentransformasi Apple saat itu, Steve Jobs melakukan sesuatu yang sangat radikal dan prinsipil, yaitu merampingkan jumlah jenis produk mereka. Sebelumnya, Apple mempunyai banyak sekali produk namun tak satu pun yang benar-benar mampu menjadi star. Bahkan saking beraneka ragamnya produk mereka, Steve Jobs sendiri tak mampu mengingatnya.
Dia lalu mengarahkan perusahaan tersebut agar fokus kepada sedikit jenis produk saja. Maka secara sederhana Steve Jobs membaginya menjadi empat kuadran saja: protable, desktop, konsumer, profesional. That’s it.
Dari sinilah kemudian lahir produk-produk legendaris, salah satunya adalah iMac generasi pertama yang luar biasa sukses saat itu.
Focus means saying NO.
Focus is also having the confidence to say no when everyone else is saying yes.
Ketika iMac pertama kali diluncurkan, komputer itu tak memiliki Floppy Drive. Hal ini sontak saja mengundang banyak kritik dan bahkan banyak yang meramalkan iMac akan menjadi produk gagal. Steve Jobs, yang saat itu pun sebenarnya tak terlalu yakin dengan keputusannya menghilangkan Floppy Drive dari iMac, tetap jalan terus dengan keyakinan bahwa iMac adalah komputer yang disiapkan untuk era internet. Selain itu toh iMac adalah komputer pertama yang dilengkapi dengan port USB.
Tak mudah berkata tidak, apalagi dalam budaya timur seperti di Indonesia. Tapi coba deh dipikir-pikir seandainya saja kita berani berkata tidak terhadap hal-hal yang tak penting dan tak mempunyai nilai tambah. Mestinya kita bisa jadi lebih fokus kepada hal-hal yang lebih penting dan membuat kita jadi lebih produktif, bukan?
Find the most talented people.
Manusia adalah aset paling berharga buat perusahaan. Dan Steve Jobs tak pernah main-main dengan yang satu ini. Konon kabarnya, Steve Jobs selalu merekrut dan memilih orang-orang terbaik untuk bekerja di Apple. Logikanya sih dengan memiliki sumber daya manusia yang handal, keluarannya juga mestinya handal ya.
Tak heran kalau Apple bisa punya orang-orang seperti Jonathan Ive ataupun Tim Cook. Mereka adalah contoh orang-orang dengan kualitas kelas dunia. Maka tak heran pula kalau Apple bisa menjadi seperti sekarang ini.
Focus on your areas of expertise and delegate all else.
Dalam memimpin Apple, ternyata Steve Jobs tak selalu terlibat terlalu dalam pada setiap aspek. Contohnya, Steve Jobs bisa sangat hands on dan engaged dalam hal desain karena passion dia memang di situ dan dia punya kemampuan di bidang itu.
Steve Jobs juga dikenal sebagai presenter yang handal. Dia selalu mempersiapkan dan memoles presentasinya selama berminggu-minggu. Selain itu, Steve Jobs selalu berada di garis depan untuk urusan negosiasi dengan pihak-pihak lain karena dia memang seorang negosiator yang ulung.
Dalam hal lain, Steve Jobs sangat mempercayakan operasional Apple kepada Tim Cook karena dia tahu dia bukan orang yang menguasai bidang ini.