si elang dan si rabbit

Pada suatu kesempatan beberapa hari yang lalu sewaktu saya di Jakarta, saya dan beberapa teman mengobrol2 santai dengan si Bapak ini. Beliau adalah orang nomer satu di perusahaan tempat saya bekerja. Orangnya sangat humble dan sederhana, kalau tak kenal mungkin tak akan tampak kesan bahwa beliau itu adalah seorang eksekutif ternama di negeri ini.

Singkat cerita, di tengah2 obrolan beliau berkisah tentang seekor burung elang dan seekor kelinci alias rabbit. Mungkin ini cerita lama, tapi saya baru pertama kali dengar waktu itu. Begini ceritanya *jeng jeng jeng*

Pada suatu hari (standard banget mulainya…hehehe), hinggaplah seekor burung elang di pucuk sebuah pohon yang sangat tinggi sekali, yang tumbuh di tengah2 padang rumput yang luas. Si elang ini ternyata tengah kelelahan sehabis terbang beribu2 kilometer jauhnya. Maka untuk mengeyahkan kepenatan, si elang bersandar leyeh2 di pucuk pohon tersebut. Angin semilir di puncak pohon dan cuaca yang tak terlalu terik membuat si elang begitu menikmati istirahat siangnya.

Beberapa puluh meter nun jauh di dasar pohon sana, seekor kelinci atau rabbit memperhatikan gerak-gerik si elang. Dalam hati ia berkata, “Wah, alangkah enaknya elang itu, bisa tiduran leyeh2 di tengah hari seperti ini. Aku juga mau beristirahat seperti dia ah”. Maka, dia pun segera merebahkan diri di rerumputan di bawah pohon tinggi tersebut. Angin sepoi2 nan sejuk segera melenakan si rabbit dalam tidur.

Tak berapa lama, lewatlah seekor serigala lapar di tempat si rabbit tersebut tertidur. Awalnya ia heran, kenapa di siang hari bolong begini, di saat semestinya seluruh hewan mencari makan, ada seekor rabbit yang sedang tidur siang.

Ia sempat curiga, “Jangan2 ini adalah sebuah jebakan”, begitu pikirnya. Lalu dia pelan2 mengendus tubuh si rabbit, mencowel2 dan menjilatinya. Si rabbit tak bergeming saking pulasnya dia tertidur.

Hmm, rasanya ini rejekiku hari ini. Perutku tak bisa kompromi lagi, baiknya langsung kumakan saja kelinci malas ini”, dan dalam hitungan detik si rabbit tersebut sudah menjadi santapan si serigala lapar tadi.

Dari pucuk pohon yang sangat tinggi itu, si elang ternyata mengamati kejadian tadi. Sambil mengelus2 dada, dia berkata dalam hati: “Dasar rabbit bodoh! Kalau mau berleha2 itu ya harus di atas sini dong!

Pesan moral ceritanya, kalau kita mau berleyeh2, sebaiknya tunggu kalau sudah bisa jadi seekor elang dan menclok di pucuk pohon atau di atas. Jadi, kalau masih jadi rabbit, jangan bermalas2an dulu. Hehehe…