Tanggal 18 November 2007 yang lalu, saya diajak seorang teman untuk menemani dia mengikuti lomba irit2an bahan bakar dengan mengendarai mobil Honda Jazz. Judul acaranya adalah Honda Jazz Eco-Challenge 2007.

Selain sebagai ajang promosi, acara ini mengusung tema yang ramah lingkungan. Yah sengaja dicari2 kecocokannya saja mungkin ya, mobil irit = ramah lingkungan.

Jadi, ceritanya teman saya ini menelepon saya pada hari Jumat sore (2 hari sebelum hari-H). Dia mengajak saya untuk menjadi partner-nya dalam lomba ini. Istilah kerennya menjadi Navigator lah.

Ketika saya tanya kenapa saya yang diajak, teman saya ini menjawab, “Ya soalnya elu itu kurus dan ringan. Gue butuh orang yang kurus biar gak nambah2in beban mobil gue!”

Saya menuruti ajakannya, yah itung2 menambah pengalaman.

Hari minggu pagi, saya dijemput jam setengah 6 pagi. Kami langsung meluncur menuju tempat pelaksanaan acara, yaitu di gedung Dome, Balikpapan. Sampai di sana, ternyata baru ada 5 mobil peserta yang datang dan itu artinya mobil kami (mobil teman saya, tepatnya) mendapat nomer start ke-6.

Rupanya teman saya ini sudah mempersiapkan segalanya untuk mengikuti lomba. Dia sudah menyusun strategi untuk memenangi lomba ini, antara lain: mengurangi beban mobil sebisa mungkin dengan cara tidak membawa ban serep dan barang2 lain yang tidak perlu, tidak menyalakan AC, tidak menyalakan tape mobil, dan ini yang paling gawat: menutup seluruh jendela mobil selama dalam perjalanan!

Alasan teman saya untuk menutup jendela mobil adalah untuk mengurangi hambatan udara. Benar atau tidak alasannya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, pagi2 itu saya sudah bersiap2 untuk mandi keringat.

Dari informasi yang diterima sebelumnya, lomba ini akan dimulai pukul 7. Tapi, ternyata panitia kemudian mengumumkan bahwa lomba baru akan dimulai pukul 8! Wah, itu berarti matahari sudah cukup terik.

Sembari menunggu, panitia sudah menyiapkan sarapan pagi untuk para peserta. Saya dan teman saya pun segera melahap habis sepiring nasi kuning dan teh panas. Lumayan, bikin segar.

Pukul 8 lewat sedikit, lomba dimulai. Satu per satu peserta mulai dilepas di garis start oleh panitia. Mobil kami start di urutan ke-6.

Strategi tambahan yang diterapkan oleh teman saya: putaran mesin dijaga selalu dibawah 1500 rpm dan kecepatan dijaga konstan. Oh iya, mobil teman saya ini menggunakan transmisi otomatis. Dan nantinya keiritannya akan diadu dengan peserta yang transmisinya otomatis juga. Sebaliknya begitu juga dengan peserta yang menggunakan transmisi manual.

Mobil kami berjalan pada kecepatan sekitar 40 – 50 km/jam (kalau tidak salah, yang jelas kecepatannya konstan). Jendela ditutup, tapi udara di dalam mobil belum terlalu panas.

Sepuluh menit pertama, kami masih berada di rute dalam kota. Lalu lintas lumayan padat tapi tetap lancar. Teman saya berusaha untuk menghindari perhentian atau lampu lalu lintas, karena menurutnya itu akan membuat bahan bakar terbuang percuma (ya ya, segitunya ya….). :D

Sepuluh menit berikutnya, udara dalam mobil mulai hangat. Keringat saya mulai bercucuran. Beberapa mobil peserta lain mulai mendahului kami. Teman saya tidak peduli, motonya biar lambat asal irit!

Oh iya, rute yang harus ditempuh adalah sekitar 95 kilometer dan harus ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam. Itu berarti kami sebenarnya bisa saja menyelesaikan rute tersebut dengan kecepatan konstan 42.5 km/jam.

Satu jam pertama tak terasa terlewati. Saya sudah mandi keringat. Rasa haus mulai mencekik leher. Untungnya teman saya ini agak pintar sehingga dia tidak lupa membawa 2 kaleng minuman dingin. Aahh, lega rasanya bisa meneguk sejuknya air di dalam kabin mobil yang panas.

Satu setengah jam berlalu, kita pun sudah menempuh sekitar 70% rute yang harus ditempuh. Mobil teman saya sudah penuh dengan keringat, kami seperti tenggelam dalam akuarium berjalan. Saya makin meleleh. Lemas, tapi tetap bersemangat dan tersadar. Kami membunuh kejenuhan di perjalanan dengan mengobrol ke utara dan ke selatan (bahasa Jawanya: ngalor ngidul).

Akhirnya, setelah 2 jam lebih 5 menit, mobil kami pun menyentuh garis finish. Entah di urutan keberapa, tapi itu tak penting. Di sini yang akan diukur adalah konsumsi bahan bakar.

Mobil pun di parkir dan di situ sudah ada panitia yang menyiapkan 2 botol air minum penyegar dan handuk kecil. Alhamdulillah…

Sementara menunggu pengukuran konsumsi bahan bakar yang dilakukan oleh panitia, saya memilih menunggu di dalam gedung Dome yang sejuk karena AC. Sebuah grup band sedang melakukan check sound di atas panggung.

Nah, sayangnya, saya tidak bisa mengikuti acara tersebut hingga pengumuman pemenang karena saya harus berangkat ke Jakarta. Terpaksa saya meninggalkan tempat tersebut dan segera menuju ke bandara untuk mengejar pesawat. Hanya teman saya yang menunggu di situ hingga acara selesai.

Di tengah perjalanan menuju airport, teman saya menelepon: “Fis, kita juara 2!”

“Oh ya?! Wah, itu gara2 aku ikut, mas!”, jawab saya.

“Tadi bensinnya diukur, dapetnya 1:55!”

Yah lumayan, tidak sia2 tubuh meleleh banjir keringat, darah dan air mata selama 2 jam. Akhirnya, kita bisa juara 2… :D

Foto2 di acara tersebut bisa dilihat di sini.

About these ads