Aahhh…ada sedikit kelegaan setelah mengklik tombol “Publish” barusan.Banyak sekali hal yang ingin ditulis di blog ini selama masa Hiatus saya, tapi hanya satu cerita ini yang rasanya bisa saya tuliskan saat ini.

Pada suatu pagi yang cerah beberapa hari yang lalu, tiada angin tiada hujan (ya iyalah, wong katanya cerah!…geblek!), tiba2 ada panggilan masuk ke handphone saya. Dari Jakarta, tapi nomernya tak dikenal, tidak ada dalam phonebook saya. Tapi, langsung saya tekan tombol untuk menjawab panggilan tersebut.

“Halo…selamat pagi,” si penelepon ternyata berjenis kelamin laki2, atau kalaupun bukan laki2, dia adalah perempuan bersuara berat.

“Ya, selamat pagi…”

“Ini fisto?…”

“Iya, betul….ini siapa ya?”

“Ini Alex.” Oh, si Alex. Saya langsung berasumsi kalau si penelpon ini adalah Alex, teman saya dari Balikpapan. Confirmed, dia seorang lelaki.

“Alex Balikpapan ya? Gimana, Lex?”

“Bukan. Gue dari Jakarta kok.”

“Loh, terus ini Alex yang mana ya?” Otak saya bekerja keras untuk mengingat2 kalau2 saya punya teman lain yang bernama Alex.

“Ya gue Alex. Alex Sutanto.” Nah loh, saya makin yakin kalau saya tidak mempunyai teman lain selain Alex yang di Balikpapan, apalagi yang namanya Alex Sutanto.

“Oh…” Saya sempat terdiam. Tiba2 saya berpikiran kalau orang ini adalah teman saya yang lain, yang berpura2 menjadi Alex, “Ini Rico ya?…iya kan? Ketauan kamu!…Hahahaha….Piye piye?”

“Bukan, gue bukan Rico. Gue Alex.” Iya, ini bukan suara Rico, teman saya yang lain. Mirip sih, tapi sepertinya memang bukan Rico.

“Lha, terus ini siapa?” Saya bertanya lagi.

“Gue Alex. Boleh kenalan, gak?”

Waduh, amit2 jabang bayi. Bagaikan disambar petir di pagi yang bolong. Seumur2 saya tidak pernah diajak kenalan oleh seorang lelaki melalui telepon untuk tujuan yang tidak jelas seperti ini.

“Wah, becanda ya. Ini siapa dulu? Ngaku dong…” Saya mulai panik.

“Ini Alex. Kan udah gue bilangin dari tadi. Gue cuman mau kenalan ama elo.”

“Ehm, sori ya, aku lagi di jalan nih. Gak bisa telpon lama2.” Saya langsung ingin memutuskan pembicaraan saat itu juga. Tapi si Alex ini berbicara lagi.

“Kalo gitu, elo mau ketemuan ama gue, gak?” Dhuaaanngg dhuaarrr!!! Ada yang gak beres nih, pikir saya.

“Ya enggak laaah…udah ya, bye…” Sambungan telepon saya putus.

Sampai saat ini, saya masih belum mempunyai petunjuk yang jelas siapa sebenarnya si penelepon misterius tersebut. Alhasil saya hanya bisa menduga2 saja. Paling tidak ada 3 macam dugaan terhadap si penelepon tersebut:

  1. Dia sebenarnya memang seorang teman saya. Tetapi sedang iseng mencoba membuat saya penasaran. Tapi ini adalah dugaan yang paling lemah, soalnya kalaupun teman saya ini sedang iseng seberat2nya, kemungkinan besar dia bakal mengakui identitasnya. Toh, saya sudah berhasil dibuat kesal dan menduga2. Tapi, nyatanya si penelepon ini tidak menelepon kembali dan mengakui identitasnya.
  2. Dia adalah seorang secret admirer saya. Mudah2an dugaan ini yang tepat. Mungkin dia penggemar saya yang masih malu2 mau mengajak kenalan. Sebagai seorang public figure, saya harus siap menghadapi beraneka macam sifat dan tingkah laku penggemar2 saya. *silakan muntah*
  3. Dia adalah seorang homo yang sedang haus belaian lelaki. Ini kemungkinan yang terburuk. Kalau benar begitu, darimana si homo ini mendapatkan nomer handphone saya ya? Lagipula, apakah dia pernah melihat tampang saya? Apa tidak salah lihat, tuh? Lha saya ini kurus, hitam, legam dan kucel kok masih saja membuat dia bernafsu. Duh, tak bisa saya bayangkan deh bagaimana kalau pantat indah saya disodomi oleh si penelepon itu…. :(

Moral dari cerita ini: basuhlah pantatmu sebelum tidur.