rumah makan indonesia

Tags

, , , , ,

Salah satu hal yang bisa membuat saya melupakan sejenak kerinduan akan keluarga di tanah air adalah masakan Indonesia. Di Qatar sudah banyak rumah makan yang menyediakan masakan khas Indonesia, tapi sampai saat ini saya baru mencoba 2 di antaranya, yaitu Central Indonesian Restaurant dan Restaurant Jakarta.

Menu yang disediakan oleh kedua rumah makan tersebut cukup beragam, tapi yang saya suka adalah menu masakan rumahan yang bisa kita pilih sesuai selera kita. Selain itu, mereka juga menyediakan menu-menu khusus seperti lontong sayur, bubur ayam, soto ayam, mie bakso dan lain-lain sebagainya.

Beberapa hari belakangan ini, saya sering memesan makanan ke Rumah Makan Jakarta lewat telepon. Tak berapa lama akan ada seorang kurir yang akan mengantar pesanan saya sekaligus menerima pembayarannya. Lumayan bisa menghemat, karena sekali pesan bisa untuk dua kali makan. Kita juga bisa memesan untuk beberapa hari sekaligus seperti layaknya layanan katering. Porsinya pun bisa disesuaikan dengan keinginan kita. Bisa lauk saja ataupun dengan nasi.

Sesekali saya juga makan di sana sepulang dari kantor. Biasanya saya memesan nasi campur yang ditemani dengan kecap manis cap Bango dan segelah es teh manis. Hmmm….suegerrrnyaaaa….

Update:

Kemarin saya juga sudah mencoba Minang Restaurant yang tentu saja menyediakan aneka makanan khas Minangkabau. Ada rendang (dan rendang Onta!), gulai, sambal hijau, dan lain-lain.

bahasa pengantar

Tags

, , , ,

Bahasa resmi di Qatar adalah bahasa Arab. Namun dengan jumlah pendatang yang mencapai 87% dari total jumlah penduduknya, maka Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar yang umum digunakan di mana-mana. Sejauh ini, saya tidak pernah kesulitan untuk mencari informasi atau berkomunikasi dengan orang lain karena masalah bahasa. Di tempat-tempat umum misalnya, selain tulisan Arab, biasanya dilengkapi juga dengan tulisan latinnya dalam bahasa Inggris.

Kemampuan bahasa Inggris masih pas-pasan seperti saya? Jangan khawatir, yang dibutuhkan untuk bisa survive di sini tidak perlu harus punya nilai TOEFL yang tinggi atau bisa berbicara dengan grammar atau pronounciation yang baik dan benar.

Banyak pendatang (dan juga orang Qatari sendiri) yang tidak terlalu menguasai bahasa Inggris. Jadi kita cukup menguasai kata-kata yang umum digunakan saja dalam bahasa Inggris lalu jika diperlukan bisa ditambahkan dengan bahasa tubuh, insya Allah komunikasi akan tetap lancar. Yang penting orang yang kita ajak bicara mengerti apa yang ingin kita sampaikan.

Beberapa saat yang lalu saya mengambil training singkat untuk ujian SIM Qatar. Kebetulan instrukturnya adalah orang Nepal (atau Sri Lanka, saya tak begitu ingat) yang bahasa Inggrisnya boleh dibilang cukup seadanya, padahal menurutnya dia sudah bekerja selama 6 tahun sebagai instruktur. Hebat yah!

Jadi selama masa latihan, komunikasi yang terjadi antara saya dan dirinya dilakukan melalui bahasa Inggris yang sangat basic, semacam “Left!”, “Right!”, “Go faster!”, “Slowly”, “Mirror”, “Police”, “Fail!”, dan lain sebagainya. Seingat saya, dia tak pernah memberikan instruksi dalam sebuah kalimat yang lengkap. Tapi toh saya bisa memahami dan kami saling mengerti. Hahaha….

Yang paling saya ingat adalah saat dia memberikan instruksi yang isinya sama dengan instruksi sebelumnya. Alih-alih dia membeberkan kembali step by step-nya, dia cukup berkata, “This one, same-same”,  maksudnya kurang lebih, yang ini sama urut-urutannya dengan yang sebelumnya. :D

stop!

Tags

, ,

Sudah hampir 3 minggu saya tinggal di Doha. Saya masih belum bisa beradaptasi dengan udaranya yang panas dan lembap. Namun kata teman-teman saya, mendekati akhir tahun nanti, cuaca di Doha akan makin bersahabat dan berkurang kelembapannya.

Saya masih harus beradaptasi dengan lalu lintasnya yang unik. Jalanan di Doha cukup bagus dan memiliki banyak petunjuk dan rambu. Sebenarnya kalau para pengemudinya tidak ugal-ugalan, mengendarai mobil di Doha mungkin akan terasa menyenangkan. Namun di sini mau tidak mau saya juga terpacu untuk selalu tancap gas, terutama jika di jalan besar. Kalau kita lelet, mobil di belakang bisa membunyikan klakson keras-keras. Hahaha.

stop

Urusan makanan lebih melegakan karena hampir 100% makanan di sini insya Allahhalal, sehingga tak perlu terlalu risau. Jenisnya pun cukup beragam, dari makanan khas padang pasir, India, Indonesia, hingga fast food banyak tersedia di sini. Saya sendiri terkadang memesan katering makanan Indonesia kalau sedang malas makan di luar. Maklum, selama belum ada istri di sini saya tidak pernah masak di rumah, kecuali masak Indomie.

Yang masih membuat saya galau sekarang adalah urusan resident permit atau RP yang belum kelar. Memang sih katanya prosesnya sekitar 2 hingga 3 minggu, namun kalau RP saya belum jadi, itu berarti saya juga belum bisa mulai mengurus RP untuk keluarga saya yang kemungkinan akan makan waktu 3 minggu lagi.

Belum lagi urusan sekolah yang masih belum pasti. Ada beberapa sekolah baru yang sudah saya hubungi lagi, tapi itupun masih menunggu konfirmasi dari mereka apakah anak saya bisa mendapatkan bangku atau tidak. Kemudian untuk urusan pembayaran uang sekolah juga perlu effort lagi, karena nantinya akan dibantu oleh perusahaan, maka sekolah-sekolah baru tersebut harus disetujui dulu oleh pihak perusahaan saya agar uang sekolahnya bisa dibayarkan.

Sedang kusut masalah-masalah itu, kemarin sore mobil saya melintasi sebuah lubang besar di jalan sehingga roda bagian depan kanannya rusak dan bannya kempes. Untungnya saya masih bisa mengendarainya hingga sampai di rumah dengan selamat. Hari ini saya mesti menunggu mekanik dari tempat penyewaan mobil tersebut untuk datang memperbaiki.

Kalau sudah begini, lebih baik saya berhenti sejenak, take a deep breath, berwudhu, mengadu kepada yang mengatur segala yang ada di dunia…semoga semuanya dimudahkan.

transportasi umum di doha

Tags

, , , ,

Transportasi umum yang paling banyak tersedia di Qatar adalah taksi. Armada taksi yang paling sering dijumpai di sini adalah Karwa taxi yang dikelola oleh Mowasalat, perusahaan transportasi milik keluarga kerajaan. Mobil-mobilnya cukup bagus dan berargo.

Kita bisa memesan taksi Karwa melalui operator ataupun menyetop di pinggir jalan,asalkan di luar jam berangkat kerja (pagi hari) maupun pulang kantor. Pada jam-jam tersebut, hampir dapat dipastikan semua taksi (termasuk taksi gelap) sudahfully booked karena di biasanya supir-supir taksi tersebut sudah memiliki pelanggan tetap untuk antar-jemput dari rumah ke kantor dan sebaliknya.

Mowasalat juga mengelola armada bus yang melayani beberapa rute di dalam kota, tapi jumlahnya masih terlalu sedikit dibandingkan dengan pertumbuhan kota yang pesat dan ledakan penduduknya. Sistem transportasi massa di Qatar memang masih bisa dibilang tertinggal, khususnya untuk kota sesibuk Doha.

Saat ini pemerintah Qatar sedang membangun sistem transportasi kereta yang diberi nama Qatar Rail. Konon nantinya akan terbangun jalur railway sepanjang 750 kilometer yang akan menghubungkan 100 buah stasiun untuk penumpang dan barang. Semuanya sedang dikebut pengerjaannya sehingga bisa operasional beberapa tahun sebelum Piala Dunia 2022 dilaksanakan di negeri ini nanti.

Sementara lalu lintas akan semakin padat dengan mobil karena harga mobil dan harga BBM yang relatif murah. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sumpeknya jalanan Doha dalam beberapa tahun ke depan.

awas kucing!

Tags

, , ,

Tetangga sebelah rumah sementara saya di Al Bayyan Compound adalah pasangan bule yang suka memelihara kucing. Pada suatu sore, sang istri mendatangi rumah saya dan menawarkan anak-anak kucingnya yang katanya baru berusia beberapa hari dan sudah divaksin. Dia merasa kewalahan karena kucingnya sudah terlalu banyak.

Tentu saja saya menolak dengan halus karena saya sedang tidak tertarik memelihara binatang di rumah. Saya bilang kepadanya seandainya anak-anak saya sudah datang, mungkin mereka tertarik. Tapi sayangnya mereka belum berada di sini. Ibu itu lalu pamit sambil berkata bahwa dia akan kembali lagi kalau anak-anak saya sudah datang.

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba ada sebilah papan kecil dipasang di ujung jalan di antara rumah saya dan rumah pasangan bule tadi.

Awas Kucing

Pasti papan itu dipasang karena ada “warga baru” di lingkungan ini. :)

berebut kursi sekolah

Tags

, , , , , ,

Siapa pun yang baru pindah ke sini hampir pasti akan sepakat bahwa mencari sekolah adalah hal yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak, hampir setiap kali saya menghubungi sekolah mana pun untuk mendaftarkan anak saya, Luna dan Bima, jawaban mereka hampir selalu sama: “Sorry, all classes are full”, atau “Sorry we are no longer accepting applications”, dan sejenisnya.

Bangku sekolah memang sedang menjadi barang langka di Qatar akibat tidak berimbangnya kapasitas sekolah dan jumlah murid yang ada. Qatar selalu kebanjiran pendatang baru setiap tahunnya, namun kelihatannya negeri ini belum cukup siap untuk menampung lebih banyak siswa walaupun sebenarnya saat ini sudah cukup banyak sekolah yang tersedia.

Kurikulum yang sering ditawarkan oleh sekolah-sekolah internasional antara lain adalah BritishAmerican atau pun International Primary Curriculum (IPC). Beberapa sekolah menawarkan kurikulum yang lebih khusus lagi, misalnya sekolah Prancis, Jerman, Iran, Libanon, India, Filipina, dan sebagainya.

Target utama kami tentu saja sekolah-sekolah dengan kurikulum yang umum saja seperti British atau IPC, atau mungkin American. Tapi karena sifatnya umum, sekolah-sekolah seperti itu peminatnya sangat banyak dan membludak. Jadilah kami yang baru datang ini harus gigit jari dan kalah bersaing dengan mereka yang sudah lama tinggal di sini.

Saat ini kebetulan ada 2 sekolah baru yang menghubungi kami dan akan memulai tahun ajaran mereka pada September 2014 ini. Karena masih baru dan belum banyak yang tahu, slot mereka masih tersedia buat Luna dan Bima.

Saya sudah sempat mendatangi sekolahnya dan secara fisik sih gedung dan fasilitasnya cukup bagus (tentu lebih bagus jika dibandingkan dengan rata-rata sekolah di Indonesia). Mungkin tinggal merekalah harapan kami untuk menyekolahkan anak-anak saya di Qatar ini. Paling tidak untuk setahun pertama ini. Tahun berikutnya kami bisa mencoba peruntungan dengan mendaftarkan anak-anak ke sekolah lain yang sudah memiliki reputasi yang lebih bagus.

Berikut beberapa foto yang saya ambil tadi sore dari fasilitas sekolah di AWIS (Al Wataniya International School) Doha:

IMG_4370 IMG_4371 IMG_4372

pelayanan pelanggan

Tags

, , ,

Pernah tidak puas atas pelayanan customer service di Indonesia? Penyebabnya bisa karena pelayanan mereka yang lambat, atau karena petugasnya kurang kompetenatau cara mereka melayani tidak ramah.

Di sini bersiaplah untuk menemui ketiganya penyebab tersebut dalam satu paket. Terutama kalau petugasnya kebetulan adalah Qatari atau orang India. Kalau orang Filipino biasanya mereka lebih kompeten dan ramah. Maaf ya bukan bermaksud rasis namun memang demikianlah adanya.

Suatu hari saya mendatangi counter Ooredoo, salah satu penyedia jasa seluler di Qatar, untuk melakukan perubahan paket data saya. Setelah menunggu sebentar, saya dipersilakan untuk menemui seorang petugas CS pria yang saya duga adalah Qatari (saya lihat dari namanya). Dari mulai kata pertama yang terucap dari mulutnya hingga saya selesai berurusan dengan dia, tak ada sesungging senyuman pun terlihat dari mukanya. Cara dia melayani pun seperti orang yang tidak berniat membantu. Selama dia menghadapi saya, sesekali tangannya asyik mengetik laptop yang ada di hadapannya, tapi bukan untuk mencari informasi yang saya tanyakan.

Kebetulan saya hanya membawa uang pecahan QR 500 waktu itu. Ketika saya menyerahkan uang itu untuk membayar, dia bilang dia tak punya kembalian, tetap dengan tampang yang minta ditabok. Saya bilang, saya juga tidak bawa uang lagi selain pecahan itu. Lalu dia berbicara sebentar kepada temannya yang ada di countersebelah. Setelah itu dia berkata kembali kepada saya, “You pay there”, sambil menunjuk ke temannya tadi dan menyuruh saya beranjak dari kursi saya untuk pindah ke counter sebelah yang jaraknya hanya 1.5 meter.

Saya jawab ke dia, “No, you get me the change, I’ll wait here”, lalu setelah terdiam beberapa saat dia pun beringsut ke counter temannya itu untuk mengambil kembalian. Singkatnya saya tidak merasa diperlakukan sebagaimana layaknya seorang pelanggan.

Itu hanya salah satu contoh saja bagaimana “parahnya” pelayanan terhadap pelanggan di sini. Sebagai pendatang yang akan tinggal dan bekerja di Qatar, mau tidak mau saya harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini, terutama jika berurusan dengan bagian pelayanan pelanggan, baik itu di pemerintahan maupun di sektor swasta.

jangan mengandalkan GPS atau peta elektronik

Tags

, , , ,

Karena saya belum memiliki SIM Qatar, untuk bisa mengendarai mobil, saya harus memiliki SIM Internasional yang bisa diurus di Indonesia. SIM internasional ini sifatnya sementara saja, berlaku sampai kita memiliki resident permit atau ijin tinggal di Qatar. Proses pembuatan resident permit saya sedang berjalan sekarang. Mudah-mudahan dalam 2 minggu ke depan saya sudah bisa memiliki resident permit Qatar.

Nah, saat resmi menjadi pemegang resident permit itulah konon kabarnya SIM internasional kita sudah tak berlaku lagi. Itulah sebabnya saya berpacu dengan waktu supaya saya bisa segera memegang SIM Qatar dan sah di mata hukum dapat mengendarai mobil di sini.

Sementara menunggu semua proses itu, tentu saya bisa tetap mengandalkan SIM internasional. Saya menyewa sebuah Chevrolet Aveo dengan tarif QR 1995 per bulan. Lumayan, paling tidak untuk ke kantor dan untuk keperluan-keperluan lain, saya tak tergantung kepada taksi yang tarifnya lumayan mahal dan tentu saja tak fleksibel waktu penggunaannya. Dengan menyewa mobil, saya bisa kapan saja pergi ke mana saja. Hitung-hitung sekalian membiasakan diri dengan setir kiri dan kondisi lalu lintas di Doha yang perlu nyali besar ini.

Tadinya saya menganggap mengendarai mobil di Doha bisa terbantu dengan alat GPS atau peta elektronik lain semacam Google Maps atau Apple Maps. Namun ternyata saya salah besar karena terbukti saya berkali-kali harus kesasar gara-gara peta-peta elektronik tersebut. Kok bisa?

Qatar adalah negeri yang sedang sangat giat dalam membangun. Kita bisa melihat di mana-mana ada pembangunan. Di mana-mana ada crane. Di mana-mana ada perbaikan jalan atau pembangunan jalan baru. Seringkali kondisi real di lapangan belum terupdate di peta elektronik akibat saking cepatnya perubahan yang terjadi.

Misalnya, ketika di GPS atau Google Maps menampilkan ada roundabout di depan kita, namun kenyataannya roundabout sudah berubah menjadi persimpangan dengan lampu lalu lintas.

Atau yang lebih parah lagi ketika jalan yang dianjurkan oleh si GPS itu sudah tidak ada lagi dalam kehidupan nyata karena sudah dialihkan atau diganti dengan jalan baru! Dan itu beberapa kali terjadi pada saya sendiri. Akibatnya si GPS bingung karena tiba-tiba mobil saya bisa berjalan menerobos perumahan atau gurun pasir. Padahal kenyataannya sudah ada jalan baru yang dibangun dan itu belum masuk ke dalamupdate peta di GPS.

Kalau sudah begini, biasanya saya sudah tak mengandalkan GPS lagi. Lebih baik saya baca saja petunjuk-petunjuk jalan yang ada, walaupun seringkali saya juga tak yakin apakah saya sudah mengambil rute yang benar atau belum. Yang penting hajar dulu,bleh!

Solusinya ya rajin-rajinlah mengupdate peta di GPS. Atau kalau menggunakan Google Maps atau Apple Maps, ya berharap saja peta mereka cukup rajin di-update.

membuat driving license qatar (bagian II)

Tags

, , , ,

Ada sedikit kejadian yang menarik saat saya sedang menunggu giliran untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian SIM Qatar. Saat itu, kami semua yang sedang mengantri ke loket pendaftaran sedang duduk manis sambil merem melek menikmati sejuknya AC ruangan itu. Mungkin ada sekitar 8 orang yang sedang dalam antrian, termasuk saya sendiri di urutan ke-6.

Tiba-tiba masuklah ke ruangan itu seorang anak muda berjubah putih, bertubuh agak tambun dan berwajah boros. Dia ditemani oleh seorang bertubuh kurus yang juga berjubah putih. Saya tak bisa menebak apakah orang yang kurus ini adalah teman atau supir si tambun, yang jelas mukanya nelangsa sekali.

Kedua anak muda tadi langsung menghampiri salah satu loket yang ada dan berbicara dengan si petugas dalam bahasa Arab totok. Tak berapa lama, si tambun ini berjalan menghampiri salah seorang dari kami yang kelihatannya seorang bule Eropa. Lalu mereka berbicara dengan setengah bahasa Inggris, setengah lagi bahasa Tarzan.

Keduanya lantas berjalan ke loket tadi dan berbincang bertiga dengan mbak-mbak petugas loket. Tak lama si bule menyerahkan tiket antriannya kepada si tambun yang langsung merogoh saku untuk mengeluarkan sejumlah uang. Awalnya si bule terlihat menolak pemberian uang tersebut, namun karena saya lihat jumlahnya lumayan akhirnya hati si bule luluh. Dia pun menerima uang tersebut sambil cengar-cengir.

Si tambun dan si kurus pun segera dilayani oleh si petugas loket, sedangkan bule tadi kembali ke mesin antrian dan mengambil nomer baru lalu duduk di bangku bagian belakang.

Yah begitulah, ternyata di sini nomer antrian pun bisa dibeli. Saya sendiri berpikir karena waktu itu antrian tidak terlalu panjang, seandainya ada Arab yang menawarkan QR 100 untuk nomer antrian yang sedang saya pegang, mungkin saya terima saja. Lumayan bisa buat makan 1 – 2 hari, kan? Hahaha.

Kembali ke urusan pembuatan SIM. Jadi setelah urusan pendaftaran saya beres, saya diminta untuk mendatangi ruang signal test yang letaknya bersebelahan dengan ruang pendaftaran tadi. Saat saya masuk ke ruang tunggu ujian, sudah ada belasan orang lain yang sedang menunggu giliran untuk dipanggil ke dalam ruang ujian. Mungkin orang-orang ini sudah melakukan pendaftaran sejak kemarin karena saya tak melihat mereka mengantri bersama saya di ruang pendaftaran tadi.

Saya meyerahkan berkas-berkas yang saya bawa dari ruang pendaftaran kepada seorang petugas yang duduk di sebuah meja besar dengan sebuah komputer dan tumpukan kertas-kertas di atasnya. Si petugas lalu mempersilakan saya duduk dan menunggu giliran.

Setiap 10 menit, ada seorang bapak-bapak berjubah putih dan berjenggot panjang keluar dari ruang ujian sambil menyerahkan setumpuk berkas dan mengambil setumpuk yang lain dari petugas tadi. Lalu bapak-bapak ini memanggil sederet nama dengan suara keras tapi tidak terlalu jelas pengucapannya.

Orang-orang yang dipanggil masuk ke ruang ujian disuruh menempati meja yang sudah ditentukan nomernya. Masing-masing meja tadi sudah dilengkapi dengan 1 set komputer untuk menampilkan soal-soal ujian. Kalau semua orang yang dipanggil sudah masuk, ruang ujian pun ditutup.

Nah, berkas-berkas milik orang-orang yang sudah ikut signal test tadi (yang tadi diserahkan oleh bapak-bapak berjubah putih) akan dilihat oleh si petugas yang duduk di meja besar. Lalu si petugas akan menyebutkan nama dan hasil ujiannya: fail ataupass.

“Ahmad! Fail!….Ali! Fail!…Jaa Mesh! Pass!…”

Lucunya, kadang ada yang tidak terima kenapa dirinya dinyatakan fail. Mungkin dia merasa berhak lulus, atau mungkin dia merasa ada yang salah dengan proses penilaiannya, atau mungkin juga dia terinspirasi oleh seorang calon presiden dari sebuah negara di Asia Tenggara. Entahlah.

Kalau sudah ada yang protes seperti ini, si petugas tadi biasanya cukup bilang, “Come again next week! Now please go!”, dengan suara yang cukup keras. Terkadang dibarengi dengan gebrakan meja juga kalau orang yang dinyatakan fail tadi ngotot.

Setelah kurang lebih hampir 45 menit, akhirnya nama saya dipanggil ke dalam ruang ujian. Saya disuruh ke meja nomer 5 dengan komputer yang menggunakan touch screen. Tampilan bahasa di layar saya sudah menggunakan bahasa Inggris. Namun ketika saya mengintip ke orang di sebelah saya, tampilan layarnya terlihat menggunakan tulisan Arab. Mungkin sudah disesuaikan dengan asal-usul masing-masing peserta.

Ketika semua peserta sudah duduk di mejanya masing-masing, bapak-bapak berjubah putih tadi berteriak, “Start now!”

Saya pun mulai mengerjakan soal-soal yang satu per satu terpampang di layar. Setelah kita menentukan jawaban untuk tiap soal dan menekan tombok submit, maka soal berikutnya akan muncul di layar. Materi soal-soalnya diambil dari buku panduan berlalu lintas yang saya pinjam dari seorang teman. Ada 20 soal yang harus dijawab waktu yang ditentukan habis, mungkin sekitar 10 – 15 menit.

Waktu saya selesai menjawab keduapuluh soal tadi, saya pun menghampiri bapak-bapak berjubah putih tadi. Dia lalu memperlihatkan sebuah gambar kap mesin mobil dan menunjuk 3 bagian yang harus saya sebutkan namanya. Setelah itu saya dipersilakan keluar ruangan dan menunggu lagi.

Saat tiba waktunya si petugas mengumumkan hasil ujian, nama saya pun dipanggil dan dinyatakan lulus! Saya diminta kembali ke ruang pendaftaran untuk mendapatkan jadwal road test atau ujian praktek. Ternyata saya mendapat jadwal ujian praktek 3 minggu lagi dari sekarang, di tempat yang sama jam 5.30 pagi.

Bersambung ke bagian III.

membuat driving license qatar (bagian I)

Tags

, , , ,

Sejak pertama kali mau ke Doha, salah satu yang paling menjadi momok adalah proses pembuatan SIM. Hampir semua teman saya yang sudah tinggal di sini selalu mengatakan bahwa jalan untuk mendapatkan SIM di Doha penuh onak dan duri, berliku dan terjal.

Ada seorang teman yang sampai 4 kali mengikuti tes sebelum akhirnya dinyatakan lulus dan berhak menggondol SIM Qatar. Konon teman saya ini sempat kesal karena setelah 2 kali dinyatakan gagal ujian praktek, si petugas ini hanya bilang, “You fail!”, tanpa menerangkan alasan atau salah teman saya ini apa. Bisa dimaklumi kalau dia menyobek-nyobek formulir penilaiannya sendiri di depan petugas polisinya. Mungkin sambil bilang, “Puas?! Puas?! Puasss?” ke si polisi. Kasihan pak Polisinya…

Sebenarnya sebelum mengikuti ujian SIM, kita bisa mengambil sekolah atau kursus mengemudi di salah satu driving school yang ada di Doha. Biaya kursusnya lumayan mahal. Untuk yang full course 40 sesi harganya QR 2500, yang 25 sesi harganya QR 2000, sedangkan untuk yang sudah berpengalaman menyetir bisa mengambil short course 12 jam seharga QR 1200.

Tapi beberapa teman sih langsung nekad mengambil ujian tanpa ikut sekolah dulu.Alhamdulillah mereka lulus-lulus saja tuh, walaupun sebelumnya sempat merasakan pahitnya dinyatakan fail juga. Kalau mau direct test biayanya sekitar QR 300, sudah termasuk sewa mobil untuk ujian prakteknya.

Baik kursus maupun ujian diadakan di driving school yang sudah diberi ijin oleh pemerintah. Jadi bukan di kantor polisi seperti di Indonesia. Walaupun begitu, yang menilai saat ujian praktek tetap polisi asli.

Teman saya, si Alif, baru bulan lalu sukses mendapatkan SIM Qatar tanpa mengikuti sekolah atau kursus. Dia hanya sempat fail sekali saat ujian praktek, itupun gara-gara kurang pemahaman medan.

Tahapan-tahapan untuk mendapatkan SIM di Qatar singkatnya adalah seperti ini:

  1. Pendaftaran (dengan membawa syarat-syarat kelengkapan)
  2. Signal test (ujian soal-soal teori)
  3. Road test (ujian praktek)
  4. Pengambilan SIM

Saya sendiri baru tadi pagi mencoba mendaftar ke United Driving School, yang letaknya di belakang deretan ruko-ruko di Wholesale Market Street dan juga kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya sekarang. Letaknya memang agak tersembunyi dan tidak terlihat dari jalan besar. Saya sempat berputar-putar di sekitar situ beberapa kali sebelum akhirnya menemukan lokasinya.

Saya tiba di situ jam 6.15 pagi. Iya betul, memang sepagi itu. Dan jam segitu, aktivitas didriving school tersebut sudah cukup ramai. Terlihat beberapa mobil yang digunakan untuk ujian praktek sudah berseliweran di dalam area driving school tersebut. Beberapa orang terlihat sedang mengantri di sebuah ruangan, kemungkinan besar mereka sedang menunggu giliran untuk ujian praktek.

Saya berjalan terus hingga tiba di sebuah ruangan yang pintunya masih tertutup. Menurut mas-mas yang saya duga adalah petugas setempat, di balik pintu itulah tempat pendaftaran untuk ujian SIM ini berada. Waktu saya tanya pintunya akan dibuka jam berapa, si mas-mas tersebut hanya menjawab, “Half an hour, just wait here“, sambil berlalu.

Saya pun duduk di sebelah mas-mas lain yang saya duga juga akan mendaftarkan dirinya untuk ujian. Hari masih pagi, namun udara sudah panas dan bikin gerah. Keringat mulai membasahi tubuh indah saya. Kerongkongan pun mulai kering. Padahal masih setengah jam lagi sebelum bisa masuk ke ruangan pendaftaran. Andai tahu bakal seperti ini, pasti saya akan bawa bekal minuman. Akhirnya, saya tetap bertahan duduk di situ ditemani oleh peluh dan dahaga.

Tepat pukul 7, pintu ruangan tadi dibuka dari dalam. Orang-orang yang dari tadi sudah menunggu di depan pintu langsung berebut masuk ke dalam ruangan ber-AC tersebut, termasuk saya sendiri. Masya Allah, nikmat sekali rasanya berada di dalam ruangan ber-AC ya. Surga dunia.

Karena ada 3 loket yang melayani para calon peserta ujian, waktu tunggu antrian tidak terlalu lama. Giliran saya tiba saat saya masih terbuai nikmatnya udara sejuk di ruangan itu. Yang melayani saya adalah seorang petugas perempuan bercadar hitam. Saya hanya bisa melihat matanya saja.

Persyaratan-persyaratan sudah saya lengkapi, antara lain:

  1. Fotokopi SIM A (Indonesia)
  2. Fotokopi Visa dan tanda pengenal (bisa Qatar ID atau passport)
  3. Surat dari sponsor
  4. Surat keterangan tes mata (dari optik)
  5. Pas foto ukuran passport sebanyak 2 lembar

Si petugas bercadar hitam pun segera memeriksa kelengkapan saya lalu meminta saya untuk menggesek kartu ATM untuk biaya pendaftaran sebesar QR 50. Dari situ, saya dipersilakan untuk ke ruang sebelah dan menunggu giliran untuk signal test.

Bersambung ke bagian II.