standar ganda dan jari

Beberapa orang yang saya kenal memaklumi sepak terjang FPI dengan alasan walaupun cara mereka seringkali anarkis, namun maksud yang ingin disampaikan itu sebenarnya sesuai dengan ajaran agama. Ditambahkan pula bahwa FPI katanya sering turun membantu masyarakat dan aktif dalam banyak kegiatan sosial. Jadi impaslah, anarkis dan kasar boleh asal rajin membantu sesama dan membela agama.

Sekarang teman-teman saya itu mengkritik keras Ahok karena walaupun jujur (katanya lho ya…hehehe) dan berani melawan ketidakadilan, tapi mulutnya kotor. Apalagi hasil kerjanya (katanya lagi nih) belum ada. Kemudian Ahok dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin daerah lain yang berprestasi tapi tak banyak berteriak hingga seluruh rakyat Indonesia tahu.

Saya bukan sedang membela Ahok, bahkan saya setuju sekali dengan pendapat yang mengatakan bahwa  pemimpin itu harus jujur dan tidak berkata kotor. Saya merasa Ahok memang perlu belajar menahan emosinya.

Dalam pengamatan saya, kita memang seringkali tanpa sadar menggunakan standar yang berbeda dalam menilai orang lain. Susah untuk tidak melibatkan nilai yang kita anut dalam melihat suatu masalah dan saya pikir ini sangat manusiawi.

Tapi di atas semua itu, saya percaya bahwa kebaikan itu harus dilakukan dengan cara yang baik pula.

Nah, sebagai rakyat jelata yang cukup aktif menggunakan media sosial, saya mencoba mengingatkan diri sendiri saja supaya makin hati-hati dalam menyimak dan menyebarkan berita. apalagi kalau sudah gatal ingin ikut menuliskan komentar. ingat pepatah: jarimu, harimaumu (dahulu: mulutmu, harimaumu).

standar ganda dan jari

2015 qatar national sport day

Sejak 4 tahun yang lalu, pemerintah Qatar menetapkan setiap hari Selasa di minggu kedua bulan Februari sebagai National Sport Day. Tujuannya adalah menggalakkan gaya hidup sehat dan aktif kepada seluruh penduduk negeri ini.

Beraneka kegiatan olahraga dan aktivitas luar ruangan banyak dijumpai di lapangan-lapangan terbuka. Salah satunya adalah yang diadakan di Aspire Park yang kami kunjungi tadi pagi.

Berikut adalah trailer yang saya buat dari aktivitas pagi tadi:

2015 qatar national sport day

winter desert camping

Akhir pekan yang lalu, kami sekeluarga berkesempatan untuk menjajal serunya camping di tepi pantai menjelang berakhirnya musim dingin di Qatar tahun ini. Rombongan camping kali ini terdiri atas 5 keluarga yang rata-rata beranggotakan 4 atau 5 orang.

Kami berangkat dari Doha dan Mesaieed selepas sholat Jumat. Perjalanan menuju ke lokasi camping yang kurang lebih memakan waktu sejam ini bisa dibagi menjadi 2 bagian: on-road dan off-road. Rute on-road yang kami lewati berupa jalan raya dan jalan bebas hambatan sejak dari Doha, Mesaieed terus ke selatan hingga mencapai Sealine Beach Selanjutnya untuk rute off-road, medan yang kami lewati adalah gurun pasir di sepanjang pantai dan harus dilalui menggunakan kendaraan berpenggerak 4 roda (4×4).

Di sinilah untuk pertama kalinya saya merasakan serunya mengendarai mobil di antara bukit-bukit pasir. Kegirangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. :)

Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah spot di pinggir pantai dekat dengan sebuah tempat peristirahatan umum. Karena hari sudah hampir gelap, kami pun segera memasang tenda masing-masing dan menggelar peralatan memasak untuk makan malam.

Malam itu, kami lewati dengan mengobrol sembari menikmati hidangan yang kami bawa dari rumah: Mie Bakso, nasi Mandi dengan daging kambing, Pizza, dan ayam bakar. Anak-anak terlihat begitu asyik bermain pasir dan berlari ke sana kemari.

Saya terbangun tepat sebelum azan Subuh karena suhu udara yang sangat dingin. Badan saya menggigil menahan dingin karena lupa membawa jaket. Tak banyak yang bisa saya lakukan kecuali menahan dingin hingga sinar matahari menyiramkan kehangatan nanti.

Satu per satu anggota rombongan kami pun terbangun dan mulai beraktivitas. Ada yang segera melaut dengan kayak. Ada yang langsung menyiapkan minuman panas. Ada pula yang duduk di pinggir pantai menikmati sunrise.

Sekitar pukul 11 siang, saat matahari sudah berada di atas kepala, kami pun mulai berkemas untuk pulang. Sungguh merupakan sebuah pengalaman camping yang menyenangkan.

Berikut adalah video-nya:

winter desert camping

musim dingin yang hampir usai

Musim dingin di Qatar telah melewati titik terendahnya. Sudah dua hari belakangan, suhu di luar mulai terasa menghangat kembali. Itu berarti musim dingin hampir usai.

Saya menikmati cuaca Qatar saat musim dingin. Saat siang tak terasa panas dan begitu malam tiba suhu bisa drop hingga mendekati 10 derajat Celcius. Beraktivitas di luar sangat menyenangkan di saat-saat seperti itu. Tak heran taman-taman terbuka di Doha selalu dipenuhi orang, terutama di akhir pekan.

Saya dan keluarga biasanya memanfaatkan akhir pekan dengan mengunjungi tempat-tempat publik seperti taman, museum ataupun mal. Walaupun pilihannya tak begitu banyak, tapi cukup untuk menyenangkan dan menyegarkan.

At Souq Waqif with Horses

Corniche1

Pets Area Souq Waqif

Kegiatan yang belum kesampaian ialah camping di gurun yang seharusnya paling tepat dilakukan saat musim dingin.

musim dingin yang hampir usai

membuat driving license qatar (bagian V)

Selasa pagi saya sudah berada di sekolah mengemudi Al-Khebra, Doha. Kali ini dalam rangka mengikuti ujian menyetir di jalan raya atau road test yang ketiga kalinya, setelah gagal dalam 2 kali road test yang terdahulu.

Sebelumnya saya telah mengikuti kursus menyetir 12 jam yang menjadi syarat agar bisa mengikuti ujian ini. Jika saya gagal lagi kali ini, maka saya harus mengikuti 12 jam kursus lagi sebelum bisa mencoba road test berikutnya.

Pagi ini, terus terang saya agak gugup juga walaupun instruktur saya selalu meyakinkan bahwa saya akan lulus dalam road test ini. Di dalam ruang tunggu, ada sekitar 30 orang yang sedang menunggu giliran until dipanggil dan saya perhatikan hampir semua raut muka mereka menunjukkan ketegangan. Road test ini memang menjadi momok yang menakutkan karena tingkat kelulusannya konon sangat kecil. Padahal, driving license sangat diperlukan di Qatar ini mengingat transportasi publik masih belum cukup memadai. Mengendarai kendaraan pribadi menjadi pilihan nomer satu bagi sebagian besar orang.

Ketika giliran saya tiba, alhamdulillah saya bisa mengendarai mobil dengan cukup tenang. Bahkan saya hanya memerlukan waktu sekitar 3 menit saja sebelum akhirnya petugas polisi yang menilai saya menyuruh saya untuk menepikan kendaraan, tanda bahwa ujian bagi saya sudah cukup.

Waktu saya dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan driving license, perasaan saya lega dan senang sekali. Sepertinya ada beban besar yang lepas dari pundak saya saat itu. Apalagi istri saya pun sudah berhasil memiliki driving license sehari sebelumnya.

Saran saya bagi yang baru datang ke Qatar dan hendak mendapatkan driving license, akan lebih baik jika mengambil sekolah mengemudi terlebih dahulu. Durasi kursusnya bisa disesuaikan dengan kondisi dan kepercayaan diri masing-masing. Kalau sudah lama tidak menyetir atau belum pernah menyetir sama sekali, silakan ambil yang full course. Kalau sudah memegang SIM Indonesia, bisa mengambil yang half course atau short course.

Mengapa saya anjurkan seperti ini? Karena dengan mengikuti kursus terlebih dahulu, paling tidak kita bisa belajar aturan-aturan dalam berlalu lintas dan kondisi jalan raya di negeri ini yang tentu berbeda dengan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan saat ujian nanti, kita bisa lebih percaya diri dan cukup memiliki pengetahuan yang diperlukan dalam mengendarai kendaraan bermotor di Qatar. :)

membuat driving license qatar (bagian V)

membuat driving license qatar (bagian IV)

Dari sekian banyak perjuangan yang harus dilalui untuk hidup di Qatar, mungkin perjuangan untuk mendapatkan SIM (driving license) adalah salah satu yang paling berliku, penuh onak dan duri. Setidaknya itulah yang saya alami sendiri selama 3 bulan tinggal di sini. 

Untuk mendapatkan driving license di sini, kita bisa memilih jalur direct test maupun mengikuti driving school terlebih dahulu. Dulu saat saya baru sebulan di sini, saya mencoba direct test atas pertimbangan biaya yang jauh lebih murah dan merasa pengalaman menyetir saya sudah cukup. Awalnya terasa mudah karena saya berhasil lulus signal test (ujian komputer) dan parking test. Namun begitu road test (ujian di jalan raya), saya gagal 2 kali dan hingga sekarang belum berhasil mengisi dompet saya dengan driving license Qatar.

Sesuai peraturan yang berlaku, jatah untuk mengikuti road test dari Traffic Department (semacam ditlantas) hanya 2 kali. Itu berarti saya sudah tak punya kesempatan untuk mengambil road test lagi, kecuali harus mengikuti driving school alias kursus mengemudi terlebih dahulu. 

Di Qatar, ada beberapa driving school yang memberikan jasa kursus menyetir. Biasanya mereka menawarkan 3 macam kursus, yaitu Full (40 jam), Half (25 jam) dan Short (12 jam). Bagi yang belum pernah menyetir sama sekali ataupun tidak memiliki SIM yang valid, mereka diharuskan untuk memilih yang full course. Sedangkan yang sudah memiliki SIM, bisa memilih yang half maupun short course. Saya dan istri memilih yang short course yang sekali lagi karena pertimbangan biaya dan waktu.

Karena saya sudah pernah lulus signal test dan parking test, maka seusai sesi kursus nanti selesai, saya langsung mengikuti road test. Oleh karena itu, selama 12 jam kursus ini, saya hanya praktek menyetir di jalan raya…1 jam setiap hari, selama 12 hari. 

membuat driving license qatar (bagian IV)

residence permit untuk keluarga

Dengan peraturan yang berlaku sekarang, seorang yang ingin tinggal bersama keluarga harus mensponsori sendiri keluarganya. Dan itu hanya bisa dilakukan setelah yang bersangkutan memiliki residence permit atau RP. Saya harus menunggu sekitar sebulan untuk mendapatkan RP. Setelah resmi memegang RP, saya harus menunggu 2 minggu lagi untuk mengurus visa masuk atau entry visa bagi istri dan anak-anak saya.

Dengan entry visa tersebut, istri dan anak-anak saya sudah bisa datang dan bergabung dengan saya di Doha. Alhamdulillah, sekarang mereka sudah tinggal di sini sejak lebaran haji yang lalu atau berarti sudah sekitar 3 minggu.

Apakah urusan untuk keluarga selesai? Belum juga, karena segera setelah mereka menginjakkan kaki di Qatar, saya harus segera mengurus RP buat mereka. Untungnya perusahaan saya memberikan bantuan pengurusan RP, sehingga praktis yang saya lakukan hanya menyiapkan dan memasukkan dokumen ke bagian yang mengurusi ijin tinggal di kantor saya.

Saat ini status kami masih menunggu RP untuk istri dan anak-anak. Buat anak-anak RP ini sangat penting karena sesuai peraturan yang ada, mereka belum bisa didaftarkan ke sekolah mana pun jika belum memiliki RP. Mudah-mudahan RP mereka bisa segera diterbitkan dalam waktu dekat.

residence permit untuk keluarga

kepemilikan kendaraan

Karena Qatar belum memiliki sistem transportasi massa yang cukup memadai, maka memiliki sebuah kendaraan (baca: mobil) adalah salah satu kebutuhan utama bagi sebagian masyarakatnya. Kepemilikan mobil bisa didapatkan dengan cara membeli atau pun dengan sistem lease. Kedua cara tersebut masih lebih murah ketimbang menyewa mobil, apalagi jika kita akan menggunakan mobil tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama.

Pada bulan pertama saya tinggal di Doha, saya menyewa sebuah mobil sedan Chevrolet Aveo dengan tarif QR 1,995 sebulan. Harga sewa itu sudah termasuk asuransi namun kerusakan kaca depan dan velg tidak ditanggung. Sialnya saya sempat membuat velg mobil itu rusak sehingga saya harus membayar QR 700 untuk mengganti kerusakan tersebut. :(

Kebetulan saya mendapatkan bantuan dari perusahaan untuk membeli sebuah mobil, sehingga selama beberapa minggu saya rajin menyambangi situs-situs jual-beli mobil baru/bekas seperti Qatar Sale ataupun CarSemsar serta situs informasi QatarLiving.com untuk mencari sebuah mobil yang cocok dengan selera dan budget. Alhamdulillah dua minggu lalu saya menemukan sebuah mobil bekas tapi masih cukup bagus kondisinya.

Untuk memiliki sebuah mobil, kita harus memiliki Qatar ID karena data kita akan digunakan untuk menerbitkan Istimara, atau semacam STNK kalau di Indonesia. Jadi kemarin waktu antara saya dan si penjual sudah deal, kami bersama-sama pergi ke Traffic Headquarter, semacam kantor Dirlantas Polri kalau di Indonesia, untuk mengalihkan kepemilikan dari si penjual kepada saya.

Saya pikir prosesnya akan lama dan perlu mengantri. Ternyata sesampai di gedungnya, loket-loketnya relatif sepi sehingga kami tak perlu mengantri dan langsung dilayani. Si petugas hanya meminta Istimara yang lama, Qatar ID kami masing-masing, dan meminta pembayaran biaya transfer sebesar QR 100. Setelah itu, tak sampai 5 menit, kartu Istimara yang baru langsung jadi.

Wah, saya cukup terkesan dengan proses yang begitu mudah dan cepat. :)

kepemilikan kendaraan

qatar, negara kedua tertinggi tingkat polusinya

Laporan dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO baru-baru ini menunjukkan bahwa Qatar adalah negara dengan tingkat polusi tertinggi nomer dua di dunia setelah Pakistan. Hal ini tentu saja ada hubungannya dengan jumlah kendaraan bermotor di negeri ini serta pertumbuhan penduduk yang luar biasa cepatnya dalam beberapa tahun terakhir.

Saya sendiri tak menduga bahwa polusi di Qatar akan setinggi itu karena walaupun kondisi lalu lintasnya sangat padat dan sering macet, tapi udaranya tak begitu terasa tercemari dengan asap kendaraan. Mungkin karena suhu udara di sini yang relatif selalu tinggi. Jadi jangan dibayangkan sekarang kondisi udara di Qatar dipenuhi dengan kabut asap dan kotor. Justru terlihat seperti normal saja kalau dirasakan dengan indera manusia.

Semoga hal ini tidak berdampak buruk terhadap kesehatan anak-anak. Apalagi kalau mereka harus melakukan kegiatan outdoor nantinya. :(

qatar, negara kedua tertinggi tingkat polusinya

membuat driving license qatar (bagian III)

Setelah menunggu 3 minggu, akhirnya pada tanggal 10 September yang lalu, saya mengikuti ujian praktek berupa parking test atau ujian untuk memarkir kendaraan. Sebenarnya pada hari yang sama saya juga mengikuti road test atau ujian mengendarai kendaraan di jalan raya, namun karena bentrok dengan jadwal kegiatan yang lain, road test-nya saya minta untuk diundur 3 hari setelah parking test.

Ujian parkir ini terbagi atas 2 bagian, yang pertama adalah L-parking di mana peserta akan diminta untuk mengendarai mobil dalam sebuah jalur berbentuk huruf L dan agak menanjak, dan kemudian diminta untuk memundurkan mobil dan mengembalikannya ke tempat semula. Bagian kedua adalah pocket parking atau orang biasa menyebutnya juga sebagai parallel parking, di mana peserta akan diminta untuk memarkir mobil secara paralel.

Saya berhasil melewati kedua jenis ujian parkir tersebut karena sebelumnya saya sudah mendapatkan tips & tricks dari teman-teman. Seorang petugas polisi memberikan selembar formulir penilaian yang menyatakan saya lulus ujian parkir ini dan untuk selanjutnya saya diharuskan mengikuti road test.

Tiga hari setelah ujian parkir, saya kembali mendatangi tempat ujian sejak jam 5 pagi. Saya pikir makin pagi saya datang, maka makin cepat juga giliran saya untuk mengikuti ujian ini. Namun ternyata saya salah, karena saya baru dipanggil untuk masuk ke dalam mobil sekitar jam 8.45!

Saya masuk ke mobil yang digunakan untuk melakukan road test bersama dengan 2 peserta lainnya serta seorang petugas polisi yang akan melakukan penilaian terhadap kami bertiga. Kami mengendarai mobil tersebut di jalan raya secara bergantian.

Kebetulan saya mendapatkan giliran yang terakhir. Setelah peserta kedua selesai dan meminggirkan mobil tersebut, saya lalu masuk ke belakang kemudi dan menyetel kembali kaca spion dan posisi tempat duduk. Lalu, dengan berhati-hati saya lalu mulai menjalankan mobil tersebut.

Baru berjalan beberapa ratus meter, saya harus mengendarai mobil itu di belakang sebuah truk besar yang berjalan lambat. Saya berpikir kalau harus menunggu terus di belakang truk ini, mungkin si polisi akan menilai saya belum mahir mendahului kendaraan lain atau overtaking. Maka, dengan penuh percaya diri saya pun menyalip truk besar tersebut sebelum akhirnya saya memasuki roundabout yang pertama.

Rute yang kami lalui pagi itu memang melalui banyak sekali roundabout. Saya diberitahu bahwa kunci saat melewati sebuah roundabout adalah selalu lihat ke sebelah kiri (karena di Qatar kemudi ada di sebelah kiri dan kendaraan berjalan di sisi kanan) dan terus maju jika tak ada kendaraan dari sebelah kiri. Saya pun berhasil melewati 5 atau 6 roundabout dengan lancar dan percaya diri.

Setibanya kembali di tempat ujian, para peserta masih harus menunggu hasilnya kurang lebih sejam. Selama menunggu saya sudah merasa bahwa diri saya akan lulus dalam road test ini karena menurut saya ujian tadi bisa saya lewati dengan lancar.

Kurang lebih pukul 10 pagi, seorang petugas keluar dari sebuah ruangan dan mulai berteriak-teriak memanggil-manggil nama para peserta pagi itu yang jumlahnya mungkin mencapai 30 orang lebih. Ketika nama saya dipanggil, saya pun segera mengambil formulir penilaian saya hanya untuk mengetahui bahwa saya dinyatakan GAGAL.

Awalnya saya tak percaya. Pada formulir yang ditulis dalam tulisan Arab tersebut, ada 6 tanda silang yang saya duga merupakan bagian yang tidak berhasil saya lalui dengan benar. Tapi tentu saja saya belum tahu bagian mana saja itu karena semuanya tertulis dalam tulisan Arab. Saya pun langsung menuju ke kasir untuk melakukan penjadwalan ulang terhadap road test berikutnya. Saya mendapatkan jadwal sebulan kemudian.

Sesampai di kantor, saya minta tolong teman saya untuk menerjemahkan tulisan-tulisan dalam formulis penilaian tadi. Dari situ saya tahu bahwa saya gagal pada bagian:

  • Overtaking (iya, pasti gara-gara menyalip truk lambat itu)
  • Tidak fokus saat mengendarai
  • Tidak mampu mengontrol kendaraan
  • Tidak menjaga jarak yang aman dengan kendaraan di depan
  • Tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas
  • Tidak berpindah dari lajur kiri – kanan secara benar

Terus terang saya tidak paham kenapa saya dianggap melakukan kesalahan-kesalahan di atas (kecuali yang bagian overtaking). Tapi saya anggap memang saya belum mengendarai kendaraan dengan baik dan benar. Paling tidak saya tahu area mana saja yang perlu saya perbaiki pada road test berikutnya.

Bersambung ke bagian IV.

membuat driving license qatar (bagian III)